Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kuliah Lagi Setelah Pensiun: Kisah Para Lansia Kembali ke Bangku Sekolah di Usia Senja

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Selasa, 25 Januari 2022 |15:51 WIB
Kuliah Lagi Setelah Pensiun: Kisah Para Lansia Kembali ke Bangku Sekolah di Usia Senja
Ruth Wilson berhasil meraih gelar PhD di usia 88 tahun. (Foto: University of Sydney)
A
A
A

DALAM bayangan banyak orang, universitas mungkin cocok jika dipenuhi oleh anak-anak muda berusia dua puluhan tahun, yang hilir mudik di kampus menuju kelas atau bersantai bersama. 

Orang-orang yang telah berusia lanjut, bila ada di sebuah kampus, lebih cocok menjadi dosen atau staf pengajar - bukan mahasiswa.

BACA JUGA: Tidak Ada Kata Terlambat untuk Menuntut Ilmu, Bapak ini Masih Mahasiswa di Umur 61!

Namun seiring dengan meningkatnya angka harapan hidup di seluruh dunia, beberapa orang lanjut usia memilih untuk menggunakan masa pensiunnya untuk kembali ke sekolah.

Tanggal 24 Januari, adalah Hari Pendidikan Internasional, menurut PBB. Guna memperingatinya, BBC berbincang dengan empat lansia yang berhasil lulus pendidikan tinggi di Indonesia, Kanada, Brasil dan Australia. Inilah kisah mereka.

Indonesia: 'Selama masih bisa belajar, jangan berhenti'

 

La Ode bersama keluarganya. (Foto: La Ode Muhammad Sidik) 

Bagi La Ode Muhammad Sidik, 87 tahun, umur tidak menghalanginya melanjutkan pendidikan ke jenjang atas. 

Dua tahun lalu, bersama dengan ratusan mahasiswa yang rata-rata berumur dua puluhan tahun, La Ode dikukuhkan menjadi sarjana Bahasa Indonesia dari Universitas Muhammadiyah Buton, Baubau, Sulawesi Tenggara.

Ini adalah mimpi yang tertunda bagi La Ode.

Di masa mudanya, pada tahun 50-an, La Ode mengajar di Sekolah Rakyat. Dia lalu diangkat menjadi guru Sekolah Menengah Pertama pada tahun 70-an.

Masa pengabdiannya berakhir saat La Ode pensiun pada awal 2000-an. Namun sebelum pensiun, La Ode menyelesaikan studi D3 jurusan Pendidikan di Universitas Haluoleo (Unhalu) Kendari pada 1992.

BACA JUGA: Kisah Para Lansia Wariskan Keahlian yang Tidak Diajarkan di Sekolah ke 1.000 Anak

Sebelum pensiun pula, niatnya untuk menempuh pendidikan S1 sudah sangat besar. Namun dengan sembilan anak yang harus dibiayai pendidikannya, ia harus menyingkirkan dulu cita-citanya.

Semangatnya tumbuh lagi di tahun 2012. "Anak saya yang pertama [almarhum] yang mengatakan jangan hanya sampai diploma tiga.

Dia memilih jurusan Bahasa dan Sastra, sesuai dengan kegemarannya.

Saat mendaftar menjadi mahasiswa baru itu, La Ode sudah berumur 78 tahun.

Dua tahun menjalani kuliah, setelah menuntaskan Kuliah Kerja Nyata (KKN), La Ode jatuh sakit.

"Saat hendak ujian proposal, saya mulai sakit sehingga ujian itu harus ditunda. Saya sakit selama satu setengah tahun dan harus operasi prostat," kenangnya.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement