Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kuliah Lagi Setelah Pensiun: Kisah Para Lansia Kembali ke Bangku Sekolah di Usia Senja

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Selasa, 25 Januari 2022 |15:51 WIB
Kuliah Lagi Setelah Pensiun: Kisah Para Lansia Kembali ke Bangku Sekolah di Usia Senja
Ruth Wilson berhasil meraih gelar PhD di usia 88 tahun. (Foto: University of Sydney)
A
A
A

Kanada: 'Dulu terlalu miskin'

 

Lois Kamenitz. (Foto: University of York)

Lois Kamenitz, 70 tahun, bertanya-tanya mengapa orang-orang yang berusia lanjut usia kembali ke bangku sekolah, maka dia memutuskan untuk melakukannya sendiri.

Tahun lalu, Lois menamatkan gelar doktor dari Universitas York di Kanada, di mana dia meneliti tentang pendidikan untuk siswa-siswa berusia lanjut usia.

Dia mempelajari perempuan berusia antara 50-60 tahun, dan menemukan banyak dari mereka memutuskan kembali kuliah sebagian karena universitas di Kanada memberikan potongan biaya kuliah untuk lansia.

Tapi bagi Lois, ada faktor lain yang memotivasinya.

"Saya orang pertama di keluarga saya yang bisa kuliah. Gagasan bahwa Anda bisa sukses menavigasi sistem pendidikan adalah hal baru untuk keluarga saya," ujarnya kepada BBC.

Sebagai putri imigran yang bekerja di pabrik, orang tua Lois tidak dalam posisi untuk mendukung ambisinya sekolah tinggi, namun kesempatan ini kemudian terbuka saat dia telah beranjak tua.

Lois mengingat kutipan kalimat psikiater dan psikoalalis Swis terkenal, Carl Jung, tentang pertanyaan yang harus dijawab oleh seseorang sepanjang hidupnya.

Di paruh pertama kehidupannya adalah "apa yang diinginkan dunia dari saya?" dan di paruh kedua, "apa yang ingin kita lakukan di separuh kedua kehidupan?"

"Perempuan-perempuan yang saya wawancara menjawabnya dengan sangat indah. Salah seorang berkata ini adalah saatnya dan ada banyak kewajiban yang sekarang sudah bisa disingkirkannya untuk bisa menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri."

Lois merasa, menjadi perempuan membuat kembali sekolah lebih berat baginya juga.

"Kehidupan dan lintasan karier seorang perempuan tidak linear karena hamil, mengurus anak, dan kewajiban keluarga. Saya berpikir, mungkin jika saya meriset perempuan-perempuan yang mengambil PhD di masa tua, saya akan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya sendiri."

Tujuan risetnya adalah, kata dia, mendobrak tabu yang mengatakan orang-orang tua tidak bisa dan seharusnya tidak kembali sekolah.

"Saya rasa ini mengalihkan pembicaraan dari konsep kemunduran di usia tua, menjadi kisah yang terus berlanjut di masa lansia," ujarnya.

(Rahman Asmardika)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement