Menyesuaikan diri dengan “orang Jerman“
Meskipun demikian, dia punya pengalaman sangat postif bersama orang Jerman. Ketika dia harus pindah rumah, kolega-kolega di laboratorium tempat dia bekerja membantu dengan sukarela, misalnya untuk transportasi barang. Mereka juga langsung menawarkan bantuan, ketika mendengar Raisa akan pindah rumah.
Awalnya, dalam berkomunikasi dengan orang Jerman, ia tentu juga perlu penyesuaian. Dulu dia kerap merasakan keraguan jika ingin menyampaikan pendapatnya, apalagi jika tidak setuju dengan sesuatu. Tetapi sekarang itu sudah bisa ia atasi, juga dalam komunikasi dengan teman-teman sejawat.
Ia juga bercerita, awalnya merasa sungkan untuk memanggil atasan atau pembimbing dengan nama depan saja, seperti banyak dilakukan di Jerman, karena di Indonesia orang kerap menyebut juga gelar atasan atau pembimbing, jika memanggil mereka.
Tapi satu hal unik yang sudah dia alami beberapa kali adalah sikap orang Jerman yang kurang ramah di jalanan. Tepatnya dari para pengemudi mobil, yang dia rasa menegur dengan cara kurang ramah, sehingga Raisa yang biasanya mengendarai sepeda merasa “dimarah-marahin.“ Padahal masalahnya kecil, dan sesungguhnya tidak perlu sampai marah-marah di jalan.
Di Jerman, dia akui, orang harus bisa mandiri. ”Kalau di Indonesia ada banyak servis seperti Gojek, jadi di Indonesia kita hanya perlu duduk manis dan menggunakan HP, makanan sudah datang.” Sedangkan di Jerman, semua itu tidak lazim, bahkan bagi orang yang berpendapatan tinggi. “Di Indonesia people service lebih banyak dan lebih murah.“ Jadi di Jerman kita harus belajar mandiri, begitu kesimpulan Raisa.
(Widi Agustian)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik