JAKARTA - Raisatun Nisa Sugiyanto, biasa disapa Raisa lahir di Bandung, tapi lebih merasa orang Yogyakarta karena lama tinggal di sana. S1 ia lewati di Universitas Gadjah Mada (UGM), jurusan farmasi. Setelah selesai, ia langsung melamar untuk melanjutkan penelitian ke S2.
Untuk meraih gelar S2, Raisa sudah meneliti di Pusat Penelitian Kanker Jerman, Deutsches Krebsforschungszentrum (DKFZ) di kota Heidelberg. Sekarang ia sedang melanjutkan penelitian untuk mendapat gelar S3 di Pathologisches Institut, Universitätsklinikum Heidelberg.
“Di S2 kami mendalami apa itu kanker, kok bisa ada kanker di dalam tubuh manusia,“ kata Raisa dan menambahkan, mereka juga mendalami metode-metode yang digunakan untuk mempelajari kanker. Demikian dilansir dari DW.
Baca juga: 5 Negara dengan Sistem Pendidikan Terbaik, Ada Indonesia?
Baca juga: Informasi Lengkap SNMPTN 2022: Jadwal, Persyaratan hingga Cara Memilih Prodi
Selain itu juga ada pelajaran yang mengarah ke “praklinik,“ jadi menjawab pertanyaan apa yang bisa dilakukan untuk menanggulangi kanker, sebelum menangani pasien.
S3 bisa dibilang mirip, kata Raisa, tapi lebih ke arah praktek atau risetnya. Riset juga ada di program S2, tapi program itu lebih ke arah teori. Sedangkan di S3 lebih banyak kegiatan di laboratorium. Jadi bisa dibilang, mengaplikasikan apa yang dipelajari ketika berkuliah S2 dulu, begitu dijelaskan Raisa.
Menariknya, organ tubuh yang diteliti Raisa sekarang berbeda. Dulu, di program S2, dia meneliti kanker payudara, sedangkan di S3 yang jadi fokusnya adalah kanker hati dan kantong empedu. Tapi menurut Raisa, secara umum, mekanisme pembentukan kanker sebetulnya mirip, walaupun setiap jenis kanker juga punya ciri unik. “Jadi kita bisa lompat dari satu jenis kanker ke lainnya untuk dipelajari.“
Topik penelitiannya sendiri adalah, mencari gen atau protein yang berperan dalam perkembangan kanker kantong empedu. Raisa menjelaskan, kanker berasal dari sel tubuh manusia yang tumbuh tidak terkontrol. “Jadi sel itu tidak tahu kapan dia harus berhenti tumbuh.“ Penyebabnya adalah gen atau protein yang bermutasi atau gen itu mengalami kerusakan.