Unesa Gandeng Kortex Indonesia, Cegah Stroke di Kalangan Civitas

Ali Masduki, Koran SI · Jum'at 22 Oktober 2021 11:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 22 65 2490006 unesa-gandeng-kortex-indonesia-cegah-stroke-di-kalangan-civitas-5VDjp0I14C.jpg Unesa (Foto: Dok BEM Unesa)

SURABAYA - Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bekerjasama dengan Kortex Indonesia di ruang lingkup kegiatan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada komunitas serta pengembangan citra Unesa dan juga Kortex. Kerja sama ini dilakukan untuk menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan Pengembangan lembaga. Kerjasama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepakatan (MoU).

Secara khusus Pusat Kajian Ilmu Keolahragaan (PKIK) LPPM Unesa menindaklanjuti hal ini dengan perjanjian kerjasama (PKS) pada bidang olahraga untuk upaya pencegahan penyakit stroke bagi Civitas akademika Unesa dan komunitas Kortex Indonesia.

Pada sisi yang lain, Kortex Indonesia berkomitmen untuk mengimplementasikan dan mengoptimalkan kegiatan promotive, preventive, curative hingga rehabilitative. Direktur Utama Kortex, dr. Agus C. Anab, mengatakan bahwa pihaknya akan mengakawal civitas akademika Unesa jangan sampai sakit dengan kegiatan promotive, seperti webinar kesehatan dan tanya jawab setiap bulan sekali. Kemudia preventive seperti screening lab maupun radiologis untuk mengetahui status kesehatan saat ini.

Baca juga: Viral! Mahasiswi Cantik Jadi Korban Bullying Gara-Gara Ikat Pinggang

"Apabila sakit, kita berikan fasilitas membership card yang bisa digunakan untuk telekonsultasi dan konsultasi. Setelah sembuh Kortex bersama Indonesia Brain Spine Community akan tetap mengawal kondisi civitas akademika, sesuai moto Indonesia Brain Spine Community yaitu, teman dikala sakit sahabat dikala sehat," katanya, di Unesa Surabaya, Kamis (21/10).

Hybrid Webinar tersebut sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan derajat aktivitas fisik, sehingga terhindar dari stroke yang merupakan salah satu sebab kematian tertinggi di dunia. Hybrid Webinar ini dibuka langsung oleh Rektor Unesa Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes. dan dihadiri oleh seluruh citivas akademika Unesa. Kortex Brain Spine, Indonesia Brain Spine Community dan Granostic Center yang merupakan bagian dari Kortex.

Baca juga: Resmikan 7 Gedung Baru di Unesa Surabaya, Ini Pesan Menristekdikti

Kepala Pusat Kajian Ilmu Keolahragaan (PKIK), Mochamad Parmono, memaparkan bahwa berdasarkan data survei aktivitas fisik dan kesehatan Civitas Akademika Unesa tahun 2021 diketahui bahwa 66% dosen memiliki riwayat penyakit hipertensi yang beresiko memicu terjadinya stroke.

"Serta 28% lainnya memiliki riwayat penyakit diabetes. Kurangnya aktivitas fisik dan olahraga ditengarai menjadi salah satu faktor resiko penyebab terjadinya hal ini," terangnya. Hal ini diperkuat dengan data 51% dosen Unesa tidak melakukan olahraga. Sedangkan 41% lainnya melakukan olahraga 1-2 kali seminggu yang belum memenuhi rekomendasi durasi waktu aktivitas fisik yang direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO).

Seketaris PKIK, Kunjung Ashadi, S.Pd, M.Fis, AIFO menjelaskan bahwa Civitas akademika Unesa direkomendasikan untuk melakukan aktivitas fisik dan olahraga secara cukup sesuai anjuran WHO. Ide-ide sederhana namun realistis dapat dilakukan untuk memacu aktifitas fisik di lingkungan Unesa.

"Misalnya parkir mobil/motor lebih jauh 1 meter dari biasanya, gunakan tangga untuk naik satu lantai dan gunakan aturan podomoro dengan menyisipkan 5 menit aktivitas fisik setelah melakukan aktivitas bekerja/belajar selama 25 menit," tuturnya.

Selanjutnya untuk “memaksa” berolahraga maka dapat mengatur alarm waktu olahraga di handphone. Meletakkan pakaian olahraga pada malam hari di depan kamar tidur, serta menemukan alasan yang kuat untuk berolahraga. "Misalnya agar terlihat gagah, awet muda ataupun terlihat bagus saat memakai setelan baju. Tanpa ada alasan yang kuat untuk berolahraga maka sukar untuk dapat melakukan olahraga sebagai sebuah kebutuhan," katanya,

Kunjung Ashadi menambahkan, Civitas akademika Unesa dengan rentang usia yang luas antara 18-70 tahun haruslah dapat memilah dan memilih olahraga sesuai dengan usia, riwayat kesehatan, pengalaman olahraga, jenis kelamin dan jenis olahraga favorit.

Ia mengatakan, olahraga aerobik yang bersifat daya tahan jantung paru, latihan kekuatan otot, kelentukan dan juga kecepatan gerak dapat dilakukan Civitas akademika Unesa dengan mempertimbangkan faktor di atas. Secara khusus untuk mencegah stroke maka opsi utama yang dilakukan yaitu olahraga yang bersifat aerobik.

"Penambahan latihan kekuatan dan kelentukan juga baik dilakukan oleh beragam usia civitas akademika Unesa. Khusus untuk olahraga yang mengandalkan kecepatan gerak dan eksplosif misalnya sepakbola, futsal, bulutangkis, basket dan lari sprint perlu dipertimbangkan lagi bagi Civitas akademika dengan rentang usia 40-70 tahun dengan mempertimbangkan riwayat kesehatan dan pengalaman berolahraga," paparnya.

dr. Gigih Pramono, Sp.BS yang merupakan senior doctor Kortex menyampaikan, stroke adalah gangguan pembuluh darah otak yang sifatnya mendadak. Stroke sendiri, kata dia, menyangkut kesehatan secara holistic dan comprehensive. Sehingga diperlukan setidaknya dua hal penting untuk mencapai Kesehatan yang holistic yaitu tulang belakang yang sehat dan sirkulasi darah yang sehat pula.

"Jika kita ingin hidup sehat maka yang terbaik adalah melakukan olah raga secara rutin," tegasnya. WHO menganjurkan setidaknya seseorang memiliki waktu 150 menit dalam satu minggu dan membakar 300 kalori dalam sekali olahraga. WHO juga menyarankan apapun olahraganya harus disertai dengan olah raga cardio yang sifatnya endurance misalnya jalan kaki, lari, atau bersepeda.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini