Belajar Tatap Muka Harus Didukung Testing dan Vaksinasi

Kiswondari, Sindonews · Selasa 12 Oktober 2021 10:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 12 624 2484938 belajar-tatap-muka-harus-didukung-testing-dan-vaksinasi-tipKsPZGA0.jpg Sekolah tatap muka/ MPI

JAKARTA - Pemerintah diminta memberikan perhatian khusus pada pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Pasalnya, kebijakan PTM tersebut sangat penting untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas SDM Indonesia beberapa tahun ke depan. Oleh karena itu, pelaksanaan PTM harus didukung oleh semua pihak, terutama lintas kementerian/lembaga (K/L) yang ada.

(Baca juga: Satgas: Sekolah Berisiko Paling Tinggi, Dibukanya Harus Paling Belakang)

"Sekarang kan sudah ada Surat Edaran No. 4 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Tatap Muka. Dalam surat edaran tersebut ditekankan pentingnya PTM berbasis protokol kesehatan yang ketat. Protokol kesehatan ini yang perlu diperkuat sehingga dalam tataran implementasi dapat melindungi seluruh peserta didik, guru, dan tenaga pendukung lainnya," kata Anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay kepada wartawan, Selasa (12/10/2021).

(Baca juga: Catat! Dosen dan Mahasiswa UIN Yogya yang Belum Vaksin Dilarang Ikuti PTM)

Ketua Fraksi PAN DPR RI ini mengakui bahwa pelaksanaan PTM tidak mudah. Sudah semestinya dipastikan bahwa mereka yang mengikuti PTM harus aman, sehat, dan terhindar dari Covid-19. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan melaksanakan testing secara reguler kepada siswa, guru, dan tenaga administrasi lainnya.

"Setidaknya, guru, anak didik, dan staf administrasi ditest minimal sekali atau dua kali dalam dua minggu. Agar tidak terlalu mahal dan tidak memakan waktu lama, maka testing dilakukan dengan rapid antigen. Dengan begitu, penularan covid-19 di sekolah dan perguruan tinggi dapat dipantau dengan baik," usulnya.

Selain itu, sambung Saleh, peserta didik yang mengikuti PTM harus diprioritaskan untuk mendapatkan vaksinasi Covid-19. Anak-anak sekolah yang berumur 12 tahun ke atas, sudah semestinya mendapat prioritas. Tentu sangat baik jika kemudian setiap sekolah melaksanakan vaksinasi bagi seluruh siswanya yang memenuhi persyaratan.

"Kalau sekarang, vaksin yang tersedia adalah vaksin untuk 12 tahun ke atas. Nah, harus dipastikan bahwa anak 12 tahun sampai anak kuliahan sudah divaksin. Mereka harus menjadi target utama pelaksanaan vaksinasi nasional," ujar mantan Ketua Umuk PP Pemuda Muhammadiyah itu.

Dalam konteks ini, Saleh menambahkan, Kementerian Mesehatan (Kemenkes) melalui Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dituntut untuk melaksanakan kerjasama dengan kementerian pendidikan, kebudayaan, riset dan teknologi. Kerjasama tersebut fokus utamanya pada dua hal, yaitu pelaksanaan testing dan vaksinasi. Kerjasama ini sangat penting untuk mempercepat pencapaian target pemerintah dalam pelaksanaan vaksinasi terutama menjelang akhir tahun ini.

"Setahu saya, kemenkes itu memiliki anggaran yang cukup untuk melaksanakan testing dan vaksinasi. Bahkan, karena kasus saat ini sedang mereda, diperkirakan stock antigen yang dimiliki kemenkes lebih dari cukup. Sudah saatnya pelaksanaan testing diarahkan ke sekolah-sekolah dan perguruan-perguruan tinggi. Dengan begitu, orang tua peserta didik tidak perlu dibebani biaya untuk pelaksanaan testing reguler seperti ini. Dan dengan pelaksanaan testing reguler dan berkala, semua pihak akan merasa lebih aman dan tenang. Tidak khawatir adanya kluster-kluster baru di tempat-tempat pembelajaran tatap muka," pungkas legislator dapil Sumatera Utara II ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini