NASA Ajak Generasi Muda RI Ikut Serta dalam Penelitian Luar Angkasa

Vanessa Nathania, Okezone · Sabtu 09 Oktober 2021 15:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 09 623 2483773 nasa-ajak-generasi-muda-ri-ikut-serta-dalam-penelitian-luar-angkasa-RCDSvEv9jc.jpg Deputi Manajer NASA Camille Wardrop Alleyne (Foto: YouTube)

JAKARTA - Deputi Manajer Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) untuk program pengembangan LEO komersial dan advokat pendidikan STEM, Camille Wardrop Alleyne mengajak generasi muda Indonesia untuk ikut serta dalam penelitian luar angkasa.

Hal ini diungkapkan Alleyne saat menghadiri webminar Festival Sains Antariksa (FSA) yang diadakan secara daring pada Sabtu (09/10).

Acara yang digelar oleh Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) ini ditujukan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya sains dan teknologi keantariksaan melalui FSA yang diadakan tiap tahun untuk memperingati “World Space Week”.

 FSA tahun ini mengusung tema “Peran Perempuan dalam Sains dan Teknologi Keantariksaan Indonesia.” Melalui tema ini, masyarakat diperkenalkan untuk mengetahui sosok perempuan dan kontribusinya dalam bidang sains antariksa. Selain itu, mendorong perempuan lainnya untuk terus berkarya tanpa adanya batasan gender.

Webinar ini menghadirkan 5 pembicara perempuan dalam bidang antariksa dan 1 narasumber NASA, yaitu Alleyne.

(Baca juga: Festival Sains Antariksa 2021, Peluang untuk Generasi Muda Terbuka Lebar)

Dalam kesempatan ini, Alleyne menceritakan pengalamannya menjadi insinyur kedirgantaraan AS sekaligus ilmuwan luar angkasa.

Kecintaannya pada matematika dan sains, membawanya terjun ke dunia insinyur. Dari sanalah dia mulai ikut ambil bagian menjadi teknisi berbagai program NASA, hingga menjadi pemimpin teknisi, di mana bukan hanya dituntut untuk membuat dan merakit tetapi juga mengelola misi tersebut.

Jika dilihat, misi mengenai perjalanan luar angkasa maupun mengenal dan mempelajari luar angkasa bukan lagi menjadi hal yang langka, di mana misi ini sudah dimulai sejak dulu kala salah satunya oleh AS.

(Baca juga: Festival Sains Antariksa 2021, RI Perlihatkan Kemajuan Wanita di Sains dan Teknologi)

Seiring perkembangan zaman, misi ini juga mulai dilirik oleh negara lainnya di dunia untuk ambil bagian bersama-sama melakukan berbagai penelitian.

Alleyne juga menyampaikan bahwa saat itu sudah ada banyak negara yang ikut ambil bagian dalam penelitian luar angkasa. Bahkan Februari lalu menjadi perayaan ke-20 tahun Terminal Luar Angkasa Internasional atau biasa disebut International Space Station (ISS).

ISS merupakan wadah dari banyak negara, antara lain AS, Kanada, Rusia, Jepang, dan negara-negara Eropa untuk berkolaborasi bersama melakukan penelitian luar angkasa.

Sejak 2 November 2000, lebih dari 200 orang ikut bergabung dan berasal dari 17 negara berbeda dan telah melibatkan ilmuwan di seluruh dunia. Ada sekitar 4000 lebih ilmuwan dengan 3000 lebih eksperimen yang sudah dilakukan dan berasal dari 107 lebih negara, tidak terkecuali Indonesia.

Tidak heran, jika ISS saat ini sudah menjadi laboratorium kelas dunia. Melihat fakta ini, Alleyne mengajak seluruh generasi muda Indonesia yang memiliki ketertarikan dalam dunia antariksa untuk ikut bersama ambil bagian.

Menurutnya, meneliti luar angkasa adalah hal yang perlu dilakukan, bukan hanya untuk membangun pesawat luar angkasa dan mengirimkan para astronot, melainkan juga untuk mengetahui manfaat yang bisa didapatkan oleh dunia dari perjalanan ke luar angkasa tersebut.

“Ada sesuatu yang berbeda di lingkungan luar angkasa, yang kita sebut ‘microgravity’, di mana kita tidak bisa melihat reaksi itu di bumi, tetapi hanya bisa dilihat di luar angkasa. Dan karena adanya perbedaan lingkungan tersebut, kita dapat mempelajari hal-hal luar biasa lainnya tentang perbedaan ini, di mana di bumi semua itu dipengaruhi oleh gaya gravitasi,” terangnya.

Dengan adanya penelitian mengenai ‘microgravity’ ini, Alleyne merasa banyak hal yang dapat dimanfaatkan untuk bumi, mulai dari membangun teknologi yang berkelanjutan, mengenal dan memahami konstruksi tubuh manusia saat di luar angkasa, hingga mengetahui kebutuhan teknologi ke depannya yang dibutuhkan di luar angkasa. Selain itu, melihat kondisi bumi dari atas, juga mempelajari perubahan tekanan ekstrim antara peredaran panas-dingin, radiasi energi tingkat tinggi, dan lain sebagainya.

Penelitian luar angkasa juga membantu menyumbangkan informasi terkait kegiatan luar angkasa melalui edukasi masyarakat di seluruh dunia. Dengan demikian, Alleyne berharap semakin banyak generasi muda, tidak terkecuali perempuan Indonesia untuk menjadi ilmuwan dan semakin mempelajari luar angkasa.

Harapan Alleyne sejalan dengan program yang sedang dipersiapkan oleh NASA, yakni pada 2025, NASA akan kembali mengirimkan para astronotnya untuk kembali ke bulan. Misi ini dilakukan untuk mengetahui kelanjutan akan kebutuhan penelitian luar angkasa dan bumi ke depannya.

Setelah sebelumnya, pada 1992, ASberhasil mendaratkan para astronot mereka dan menancapkan bendera kebangsaannya di atas bulan.

Dengan misi Artemis ini, NASA akan mendaratkan perempuan pertama dan perempuan dengan warna kulit lainnya selain kulit putih di bulan, untuk mengeksplorasi permukaan bulan dengan teknologi terbaru dari sebelumnya. Hasilnya akan dijadikan modal penelitian untuk target yang lebih besar selanjutnya, yaitu mendaratkan manusia ke Mars.

Misi kali ini dibangun oleh AS dengan perusahaan swasta dan komunitas internasional. Selain untuk mengambil kesempatan dalam bidang ekonomi, misi ini diharapkan bisa menjadi inspirasi untuk generasi baru agar mau ikut ambil bagian mengeksplorasi luar angkasa.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini