Kesehatan Mental Mahasiswa Lebih Buruk Sebelum Pandemi Covid-19

Lutfia Dwi Kurniasih, Okezone · Sabtu 18 September 2021 10:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 17 65 2472922 kesehatan-mental-mahasiswa-lebih-buruk-sebelum-pandemi-covid-19-0jvVS4k5O5.jpg Foto: Freepik

JAKARTA - Covid-19 telah berhasil mendefinisikan ulang pendidikan secara dramatis. Apa yang disebut "norma baru" nyatanya banyak memengaruhi kesehatan mental mahasiswa.

(Baca juga: Indonesia Berpotensi Alami Peningkatan Learning Loss Usai Pandemi)

Akibat ditutupnya perguruan tinggi di seluruh Indonesia, berdampak pada pembelajaran yang dirasa sangat berbeda. Bahkan hal itu semakin meningkatkan kecemasan dan depresi bagi kalangan muda terutama mahasiswa.

Berdasarkan Laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit yang dirilis tahun lalu menunjukkan tingkat bunuh diri di antara usia 10 hingga 24 tahun meningkat 56% antara tahun 2007 dan 2017. Tingkat depresi juga melonjak di kalangan orang dewasa, membuat para ahli khawatir bahwa generasi sekarang ini mengalami masalah kronis dan berisiko serius.

(Baca juga: Saat Jokowi Hadiahi Jaket Bomber Kesayangannya ke Warga Penerima Vaksin)

Lebih dijelaskan dalam survei kesehatan mental CDC terhadap anak berusia 18 hingga 24 tahun pada akhir Juni, 25,5% melaporkan mempertimbangkan untuk melukai diri sendiri dalam 30 hari sebelum menyelesaikan survei dan 62,9% melaporkan mengalami gejala kecemasan dan depresi.

Selain itu, mahasiswa juga mengalami transisi dari masa remaja dan pembentukan identitas orang dewasa sembari menghadapi masa depan yang sangat tidak pasti.

Apabila kamu seorang mahasiswa yang sedang berjuang dengan kesehatan mental, berikut adalah beberapa tips yang disetujui oleh para ahli tentang cara mengatasi hal tersebut dilansir huffpost, Jumat (17/9/202).

1. Tetap Terhubung dengan Orang Tercinta, Meskipun Secara Virtual

Akan sangat mudah untuk menghindari interaksi sosial dan melakukan aktivitas sendirian selama pandemi. Namun, ada baiknya kamu tetap menjaga komunikasi dengan orang-orang atau bertemu dengan orang lain dengan cara yang aman.

Gunakan pula teknologi untuk berkomunikasi. Kamu bisa melakukan percakapan secara jarak jauh, dengan begitu kamu akan merasa terpuaskan meskipun kamu hanya bisa berkomunikasi secara virtual.

2. Bangun Rutinitas Harian dengan Baik

Memiliki jadwal dapat membantu mengurangi kesulitan dalam fokus, yang mungkin dialami banyak mahasiswa dengan bertambahnya waktu mereka. Dalam waktu yang penuh tekanan, membangun rutinitas sangatlah penting.

Ikut serta dalam kegiatan apa pun yang membuat kamu merasa lebih produktif juga akan memberikan banyak manfaat. Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa kita merasa lebih baik saat kita produktif daripada saat kita hanya berdiam diri.

3. Orang Tua/Profesional Perlu Mendengar Mahasiswa

Penutupan kampus-kampus telah menghilangkan atau setidaknya membuat mahasiswa kurang mengakses lingkungan sosial yang dapat mendukung dan mengangkat semangat mahasiswa.

Mahasiswa telah mengalami tingkat stres dan depresi yang tinggi. Sekarang, dengan bertambahnya tekanan pandemi, lebih banyak mahasiswa yang mengalami keputusasaan dan kesepian.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini