Mahasiswa UGM Buat Alat Deteksi Glaukoma Berbasis Kecerdasan Buatan

Neneng Zubaidah, Koran SI · Jum'at 10 September 2021 14:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 10 65 2469331 mahasiswa-ugm-buat-alat-deteksi-glaukoma-berbasis-kecerdasan-buatan-iNuE2Nc5rg.png Mahasiswa UGM pembuat alat deteksi glaukoma (foto: dok UGM)

JAKARTA - Jumlah kasus glaukoma dan kekurangan dokter mata di Indonesia mendorong empat mahasiswa UGM yang terdiri dari Athar Rosyad Partadireja (Teknik Biomedis, 2020), Ajie Kurniawan Saputra (Teknik Elektro, 2018), Muhammad Nur Fahmi (Kedokteran, 2018), dan Synvi Alfajrine Loeba Bistomy (Teknik Biomedis, 2019), tergerak untuk mengembangkan alat yang dapat memudahkan tenaga kesehatan untuk mengumpulkan data glaukoma dengan lebih mudah dan cepat.

Di bawah bimbingan Dr. Indah Soesanti alat tersebut diberi nama Aksakirana, yang berasal dari kata aksa : mata dan kirana : cahaya, sebagai alat diagnosis glaukoma berbasis kecerdasan buatan.

Baca juga:  Wujudkan Kampus Merdeka, UGM Jalin Kerja Sama dengan Perguruan Tinggi Jerman

Menurut Athar, Aksakirana terdiri dari empat komponen utama, yakni perangkat keras berupa handheld, aplikasi seluler dan web Aksakirana, serta pembelajaran mesin. Handheld Aksakirana merupakan aksesoris kamera ponsel yang berbentuk seperti teropong genggam yang dilengkapi oleh lensa indirect ophthalmoscopy sebesar 20D.

Sementara itu, aplikasi seluler Aksakirana berfungsi sebagai media pengunggahan foto ke server guna belajar mesin Aksakirana sehingga diperoleh hasil diagnosis serta tingkat keparahannya. Adapun aplikasi web Aksakirana sendiri memiliki fungsi serupa dengan aplikasi selulernya.

Baca juga:  Mengenal Sinoma, Inovasi Mahasiswa UGM Deteksi Dini Kanker Mulut

“Hanya saja, fitur ini juga dapat diakses melalui perangkat komputer serta memuat fitur-fitur seperti pengunduhan gambar yang diberi takarir informasi hasil diagnosis dan pengunduhan dataset glaukoma yang dapat digunakan dalam penelitian glaukoma. Selain itu, dokter mata juga berhak memverifikasi hasil diagnosis glaukoma dan menerima donasi dari para filantropi,” katanya melansir laman resmi UGM di ugm.ac.id, Kamis (9/9/2021).

Pengguna Alsakirana dapat menggunakan perangkat genggam untuk menangkap gambar retina pasien dengan kamera ponsel. Selanjutnya, gambar-gambar tersebut akan diunggah ke aplikasi atau web Aksakirana untuk menerima pembelajaran oleh mesin.

“Pengguna akan mendapatkan hasil prediksi diagnosis glaukoma beserta tingkat keparahannya. Hasil prediksi ini selanjutnya dapat diverikasi oleh para dokter mata dan disimpan ke dalam server Aksakirana guna meningkatkan akurasi pembelajaran mesin Aksakirana seiring dengan banyaknya dataset yang digunakan,” jelasnya.

Athar berharap Aksakirana dapat digunakan oleh masyarakat Indonesia, khususnya tenaga kesehatan, agar proses skrining penyakit glaukoma dapat berjalan cepat dan masif. Selain itu, kehadiran biobank sebagai penyimpanan data citraus retina di pusat mahadata atau data besar yang telah dilalui nantinya dapat dibuka untuk keperluan penelitian.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini