Pandemi Covid-19, Banyak Siswa Putus Sekolah hingga Memilih Bekerja

Antara, · Sabtu 21 Agustus 2021 20:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 21 65 2458983 pandemi-covid-19-banyak-siswa-putus-sekolah-hingga-memilih-bekerja-kjJBdFt7aa.jpg Foto: Illustrasi Okezone.com

JAKARTA - Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Dr. Samto mengungkapkan sejumlah kondisi pendidikan di Indonesia saat pandemi Covid-19.

“Kondisi pendidikan di Indonesia saat ini, banyak anak yang putus sekolah ya. Dalam arti mereka terpaksa harus bekerja kemudian persepsi orang tua bahwa kenapa anaknya tidak sekolah,” kata Samto.

Baca juga:  Ini Besaran Bantuan Kuota Data Internet yang Mulai Disalurkan pada September

Samto mengungkapkan, saat ini dunia pendidikan di Indonesia telah mengalami penurunan capaian pembelajaran yang disebabkan oleh kegiatan pembelajaran dari rumah.

“Kemudian dengan adanya learning lost bahwa pembelajaran dari sistem pembelajaran jarak jauh ini banyak sekali materi pelajaran yang hilang. Yang memang sebagian besar dari anak-anak kita belajar tatap muka. Ketika harus belajar dengan sistem daring banyak kendala,” kata dia.

Baca juga:  Kemendikbudristek Berikan Penghargaan TEFA 2021 kepada 60 SMK Terpilih

Berdasarkan Hasil Assesmen Situasi Covid-19 milik Kemendikbudristek per 16 Agustus 2021, terdapat 204 ribu lebih sekolah di 194 kabupaten kota yang berada pada zona level 4. Kondisi tersebut membuat kegiatan pembelajaran masih dijalankan dari rumah dan tidak memungkinkan bagi anak-anak untuk dapat bertemu.

Ia menjelaskan, sebesar 60% sekolah berada di zona level 1 hingga 3. Sehingga memungkinkan beberapa sekolah untuk melakukan pembelajaran tatap muka, walaupun dilakukan secara bergiliran guna mengurangi learning lost yang terjadi.

Samto mengatakan, zona risiko Covid-19 tidak lagi dijadikan acuan untuk penentuan kebijakan penyelenggaraan pendidikan, namun pemerintah daerah dapat menggunakannya sebagai bahan pertimbangan dalam penyelenggaraan pendidikan.

“Jadi kondisi ini menimbulkan kemungkinan bahwa pembelajaran jarak jauh (PJJ) masih menjadi pilihan utama bagi sekolah. Bahwa dari 256 satuan pendidikan masih PJJ,” kata Samto menjelaskan bahwa saat ini PJJ masih menjadi pilihan utama yang dipilih oleh sekolah untuk melakukan kegiatan pembelajaran.

Untuk pembelajaran tatap muka (PTM) dilakukan secara terbatas. Sebesar 50% dilakukan secara bergantian dengan sedikit siswa yang masuk ke sekolah.

Lebih lanjut Samto mengungkapkan, sebesar 36% satuan pendidikan di Indonesia menggunakan kurikulum darurat selama pembelajaran di masa pandemi Covid-19 saat ini.

“Pada kesempatan ini, penggunaan kurikulum sangat bervariasi. Ada yang menggunakan kurikulum PJJ, kurikulum nasional, ada yang kurikulum mandiri. Jadi masing-masing kita bebaskan penggunaan kurikulum sesuai dengan kondisinya masing-masing,” ujar dia.

Pembebasan penggunaan kurikulum tersebut disesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing, dan telah diterapkan mulai dari jenjang PAUD hingga Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). (din)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini