Share

Kemendikbudristek : Kampus Merdeka untuk Kemajuan Bangsa

Antara, · Rabu 18 Agustus 2021 12:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 18 65 2457178 kemendikbudristek-kampus-merdeka-untuk-kemajuan-bangsa-T8e2qjkYcU.jpg Foto: Illustrasi Okezone.com

JAKARTA - Sejak diluncurkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim pada awal 2020, Kampus Merdeka telah menjadi bagian dari solusi permasalahan bangsa.

Kampus Merdeka merupakan bagian dari kebijakan Merdeka Belajar, yang merupakan langkah awal untuk melepaskan belenggu pendidikan. Kebijakan tersebut telah mendorong kolaborasi para pemangku kepentingan dalam mencari solusi persoalan yang ada.

Kampus Merdeka terdiri dari empat kebijakan yakni otonomi bagi perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) untuk melakukan pembukaan atau pendirian program studi (prodi) baru. Selanjutnya, program reakreditasi yang bersifat otomatis untuk seluruh peringkat dan bersifat sukarela bagi perguruan tinggi dan prodi yang sudah siap naik peringkat.

Baca juga:   Pemerintah Ajak Mahasiswa Ikut Program Gerilya

Berikutnya, kebebasan bagi PTN Badan Layanan Umum (BLU) dan Satuan Kerja (Satker) untuk menjadi PTN Badan Hukum (PTN BH). Terakhir, adalah memberikan hak kepada mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di luar prodi dan melakukan perubahan definisi Satuan Kredit Semester (SKS).

“Perguruan tinggi wajib memberikan hak bagi mahasiswa untuk secara sukarela. Mahasiswa boleh mengambil ataupun tidak SKS di luar kampusnya sebanyak dua semester atau setara dengan 40 SKS,” kata Nadiem. Mahasiswa juga dapat mengambil SKS pada prodi lain di dalam kampusnya sebanyak satu semester dari total semester yang harus ditempuh.

Baca juga:  Mendikbudristek: Kampus Merdeka Bebaskan Mahasiswa dari Batasan Belajar

Sejak awal pandemi Covid-19, kebijakan Kampus Merdeka tersebut telah diterapkan, dengan melibatkan mahasiswa dalam penanganan pandemi. Kemendikbudristek menurunkan sebanyak 15.000 mahasiswa untuk menjadi relawan dalam membantu memberikan edukasi terkait Covid-19. Selain itu, lebih dari 1.000 inovasi diciptakan oleh perguruan tinggi untuk membantu menangani pandemi.

Selain itu, mahasiswa juga turut membantu pembelajaran siswa melalui program Kampus Mengajar. Kampus Mengajar merupakan kerja sama Kemendikbudristek dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Melalui program Kampus Mengajar, mahasiswa dilibatkan dalam penguatan pembelajaran literasi dan numerasi serta membantu pembelajaran di masa pandemi terutama untuk SD di daerah 3T.

Kampus Mengajar telah diselenggarakan selama dua angkatan. Angkatan pertama pada Maret hingga Juni diikuti 14.621 mahasiswa dan 2.080 dosen pendamping lapangan yang berasal dari 360 perguruan tinggi dengan menyasar kurang lebih 4.010 Sekolah Dasar (SD) di 458 kabupaten dan kota yang ada di 34 provinsi di Indonesia. Sementara, Kampus Mengajar angkatan kedua diikuti sebanyak 17.000 mahasiswa.

“Program ini merupakan solusi bagi sekolah dasar yang terdampak pandemi dengan memberdayakan mahasiswa yang berdomisili di sekitar wilayah sekolah untuk membantu guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, adaptasi teknologi, dan administrasi manajerial di tengah masa pandemi Covid-19,” ujar Plt irjen Diktiristek Kemendikbudristek, Prof Nizam.

Nizam menambahkan, dalam program Kampus Mengajar ini mahasiswa akan mendapatkan bantuan potongan UKT, bantuan biaya hidup, dan konversi SKS sampai dengan 12 SKS.

Sementara, perguruan tinggi diuntungkan karena mendukung perguruan tinggi untuk mencapai indikator kinerja utama (IKU) nomor dua yaitu banyaknya jumlah mahasiswa yang mendapatkan pengalaman di luar kampus.

Kampus swasta, juga tidak perlu khawatir akan kehilangan pemasukan, karena PTS akan tetap dapat memberlakukan uang kuliah semesternya. Untuk para dosen yang mendaftar dan terpilih sebagai dosen pembimbing, akan mendapat insentif dan sertifikat pembimbing kegiatan.

Melalui Kampus Merdeka, mahasiswa dapat mengembangkan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja dimana mereka dapat belajar dari praktik terbaik di industri, organisasi kemanusiaan, dan institusi penelitian kelas dunia. (din)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini