Melalui program Kampus Mengajar, mahasiswa dilibatkan dalam penguatan pembelajaran literasi dan numerasi serta membantu pembelajaran di masa pandemi terutama untuk SD di daerah 3T.
Kampus Mengajar telah diselenggarakan selama dua angkatan. Angkatan pertama pada Maret hingga Juni diikuti 14.621 mahasiswa dan 2.080 dosen pendamping lapangan yang berasal dari 360 perguruan tinggi dengan menyasar kurang lebih 4.010 Sekolah Dasar (SD) di 458 kabupaten dan kota yang ada di 34 provinsi di Indonesia. Sementara, Kampus Mengajar angkatan kedua diikuti sebanyak 17.000 mahasiswa.
“Program ini merupakan solusi bagi sekolah dasar yang terdampak pandemi dengan memberdayakan mahasiswa yang berdomisili di sekitar wilayah sekolah untuk membantu guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, adaptasi teknologi, dan administrasi manajerial di tengah masa pandemi Covid-19,” ujar Plt irjen Diktiristek Kemendikbudristek, Prof Nizam.
Nizam menambahkan, dalam program Kampus Mengajar ini mahasiswa akan mendapatkan bantuan potongan UKT, bantuan biaya hidup, dan konversi SKS sampai dengan 12 SKS.
Sementara, perguruan tinggi diuntungkan karena mendukung perguruan tinggi untuk mencapai indikator kinerja utama (IKU) nomor dua yaitu banyaknya jumlah mahasiswa yang mendapatkan pengalaman di luar kampus.
Kampus swasta, juga tidak perlu khawatir akan kehilangan pemasukan, karena PTS akan tetap dapat memberlakukan uang kuliah semesternya. Untuk para dosen yang mendaftar dan terpilih sebagai dosen pembimbing, akan mendapat insentif dan sertifikat pembimbing kegiatan.
Melalui Kampus Merdeka, mahasiswa dapat mengembangkan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja dimana mereka dapat belajar dari praktik terbaik di industri, organisasi kemanusiaan, dan institusi penelitian kelas dunia. (din)
(Rani Hardjanti)