Rektor UNS Terima Penghargaan Jasa Bakti Koperasi Tahun 2021

Tim Okezone, Okezone · Senin 12 Juli 2021 13:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 12 65 2439342 rektor-uns-terima-penghargaan-jasa-bakti-koperasi-tahun-2021-0otGEotH0I.jpg Rektor UNS Jamal Wiwoho saat mendapatkan penghargaan (Foto : ist)

JAKARTA – Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Jamal Wiwoho menerima penghargaan Jasa Bakti Koperasi untuk kategori tokoh masyarakat. Penghargaan diberikan oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) RI, pada Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-74 yang digelar melalui Zoom Cloud Meeting, Senin (12/7/2021).

Prof. Jamal menjadi satu-satunya rektor dari Jawa Tengah (Jateng) yang menerima penghargaan tersebut. Ia bersanding dengan Bupati Karanganyar, Juliyatmono, dan sembilan tokoh lainnya yang juga menerima penghargaan Jasa Bakti Koperasi.

Baca juga:  3 Mahasiswa UNS Juara 1 Innovation Animal Science Competition

Usai menerima penghargaan Jasa Bakti Koperasi, Prof. Jamal mengungkapkan rasa terima kasih dan syukurnya atas kerja keras dari seluruh elemen di UNS yang memiliki kepedulian kepada koperasi dan UKM.

“Di Hari Koperasi yang ke-74 ini, saya merasa senang dan bangga karena sebagai pimpinan, UNS mampu menjalankan roda koperasi kita yang bagus,” ujar Prof. Jamal.

Baca juga:  Pemanfaatan Biomassa sebagai Sumber Energi di Masa Depan

Ia mengatakan, UNS sebagai institusi pendidikan juga memiliki fokus dan kepedulian untuk memberikan kemudahan dan advokasi bagi koperasi dan UKM. Dengan tujuan, agar kolaborasi di antara dua sektor tersebut dapat memperkokoh perekonomian Indonesia.

“Dirgahayu Koperasi Indonesia ke-74. Di tangan koperasilah, soko guru ekonomi Indonesia bisa diwujudkan ke depannya,” pungkasnya.

Menggagas koperasi kesehatan

Pada Peringatan Hari Koperasi ke-74 tahun ini, Prof. Jamal dalam opininya berjudul “Menggagas Koperasi Kesehatan” yang dimuat oleh Koran Jawa Pos, Senin (12/7/2021), menyampaikan gagasannya soal transformasi koperasi di era pandemi.

Gagasan tersebut adalah mendorong koperasi agar berfokus pada benefit oriented dalam kegiatan-kegiatan di sektor sosial, seperti kesehatan ketimbang mengejar keuntungan atau profit oriented belaka.

“Koperasi belum menyentuh sektor sosial. Berbeda dengan negara-negara lain, koperasi menjalankan kegiatan usaha di sektor sosial, seperti kesehatan, pendidikan, dan layanan sosial lainnya,” ujar Prof. Jamal.

Baca juga:  Bekerja Sama dengan TNI, UNS Gelar Vaksinasi Covid-19 Bagi 1.000 Mahasiswa

Prof. Jamal menyampaikan, selama pandemi Covid-19, koperasi dapat menyediakan layanan kesehatan dari, oleh, dan untuk anggotanya dengan dukungan yang diberikan dokter, tenaga kesehatan, dan anggota yang tergabung sebagai penerima manfaat.

Dalam hal ini, koperasi kesehatan dapat memiliki klinik atau rumah sakit yang dibangun melalui iuran anggotanya. Hal tersebut dapat dijadikan perwujudan koperasi sebagai lembaga sosial sekaligus lembaga ekonomi.

 Baca juga: Sosiolog UNS: Masyarakat Jangan Egois, Empati kepada Nakes dengan Disiplin Prokes

Ia menilai koperasi kesehatan juga menjadi instrumen yang penting bagi anggotanya untuk membangun kehidupan sosial yang sejalan dengan tujuan pembagunan berkelanjutan.

“Koperasi kesehatan merupakan perwujudkan usaha bersama yang dapat menjamin keadilan dan terlaksananya tata kelola yang mampu menjaga peningkatan kualitas kesehatan,” kata Prof. Jamal.

Ia mencontohkan sejumlah nama koperasi kesehatan besar di dunia yang sudah berdiri sejak lama, seperti The Health Partners Cooperative di AS, HeW Coop Japan, SaludCoop di Kolombia, dan The Office des Pharmacies Cooperatives de Belgique (OPHACO) di Belgia.

Dari nama-nama itu, Prof. Jamal menyoroti salah satu kiprah koperasi kesehatan, yaitu The Health Partners Cooperative yang mampu menyediakan layanan klinik, asuransi kesehatan, farmasi, laboratorium, pusat kebugaran, kelas ibu hamil, dan kelas penderita kanker.

“Koperasi tersebut merupakan salah satu contoh koperasi yang dalam kegiatannya juga mengusung konsep ekonomi kreatif. Kegiatan usaha yang dijalankan tidak hanya layanan kesehatan, tetapi juga berbagai layanan usaha pendukung terkait dengan kesehatan,” lanjut Prof. Jamal.

Oleh karenanya, pada Peringatan Hari Koperasi ke-74 tahun ini, ia mendorong pemerintah agar memberikan ruang bagi koperasi untuk bergerak di sektor kesehatan.

Kemenkop UKM RI bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan otoritas terkait disebut Prof. Jamal dapat bekerja sama dan berkoordinasi dalam rangka pemberdayaan koperasi di sektor kesehatan.

“Kemenkes dapat berperan untuk menyiapkan program dan bimbingan teknis layanan kesehatan. Kemenkop UKM RI dapat berperan untuk memfasilitasi pembentukan koperasi dan penyediaan permodalan koperasi,” imbuhnya. (din)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini