Share

Menakar Minat Baca Gen Z di Tengah Gempuran Digital (3): Perpusnas-Penerbit Siap Berinovasi

Ajeng Wirachmi, Litbang Okezone · Jum'at 02 Juli 2021 16:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 02 65 2434556 tingkatkan-minat-baca-gen-z-perpusnas-dan-penerbit-siap-berinovasi-bNVz6h9tKs.jpg ilustrasi. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Tingkat literasi anak generasi zelenial atau gen Z di Indonesia yang masih rendah sudah sepatutnya wajib digenjot agar lebih meningkat. Demi mewujudkan itu, pemerintah sepatutnya turun tangan untuk menyediakan sarana dan prasarana yang mumpuni.

Koordinator Kelompok Substansi Pengembangan Kegemaran Membaca dan Literasi Perpusnas, Rudi Hernanda mengungkapkan bahwa Indonesia sudah terlalu sering mendapat predikat negara dengan tingkat literasi terendah di dunia. Itu merupakan fakta di hilir. Namun, banyak pihak yang jamak memperhatikan bagaimana kondisi sebenarnya yang terjadi di sisi hulu.

BACA JUGA: Menakar Minat Baca Gen Z di Tengah Gempuran Digital

“Padahal, UNESCO menetapkan perbandingan 1:2. Artinya, 1 orang membutuhkan 2 buku baru. Sedangkan, buku yang sekarang beredar saja hanya 22 juta. Sangat jomplang dengan jumlah penduduk Indonesia,” kata Rudi kepada Litbang MPI.

Mahalnya biaya pengiriman buku ke beberapa wilayah, seperti Papua juga membuat pendistribusian buku tidak merata. Bahkan, ongkos kirim biaya pengirimannya juga lebih mahal dibanding harga buku itu sendiri.

BACA JUGA: Menakar Minat Baca Gen Z di Tengah Gempuran Digital (2)

Maka dari itu, sejak tahun 2017 lalu Perpusnas meluncurkan aplikasi perpustakaan digital iPusnas. Dari sana, seluruh masyarakat terutama gen Z bisa mengakses buku apa saja yang diinginkan. Kehadiran iPusnas pada awalnya mendapat penolakan dari penerbit karena dikhawatirkan akan mematikan pasar buku tercetak. Namun, kekhawatiran itu tidak terjadi. Bahkan, menurut data IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) permintaan buku tercetak justru naik sebesar 30 % sepanjang 2018 – 2019.

Apalagi, menyongsong era digitalisasi ini yang menuntut Perpusnas lebih kreatif untuk meningkatkan minat baca anak gen Z. Rudi berujar bahwa Perpusnas selalu mengupayakan untuk mampu berbagi ilmu pengetahuan bagi masyarakat. “Di masa pandemi ini, kami rutin melakukan seminar daring tentang pentingnya literasi. Tentunya, acara dikemas dengan sangat santai. Jadi, peserta bisa leluasa bertanya atau bahkan bertukar pendapat. Sehingga, dapat memacu kegemaran membaca,” katanya. Patut dipahami bawa perpusatakaan adalah rumah Peradaban yang bisa menjadi sarana bagi masyarat untuk memperoleh ilmu baru.

Sementara itu sebagai penyedia buku, penerbit juga harus aktif dalam menghadirkan beragam bacaan menarik yang sekiranya mampu meningkatkan minat baca anak gen Z. Rudi melanjutkan, jika perusahaan penerbitan berisi orang-orang kreatif yang harus mumpuni dalam membaca situasi terkini.

Esti Budihabsari, Manajer Redaksi Buku Genre Umum dan Remaja Mizan Publishing mengatakan bahwa pihaknya sudah menyediakan buku yang sangat lengkap, baik dalam bentuk fisik maupun digial. “Bahkan, kami juga memiliki buku digital ekslusif dengan harga yang sangat terjangkau,” imbuhnya. Selama penerbit berusaha membuat konten yang sepadan dengan perkembangan zaman, maka merebaknya digitalisasi tak perlu jadi persoalan dan kekhawatiran.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini