Salah satu contoh berita yang dipaparkan oleh Salieg adalah berita dari Media MSNBC yang tayang pada 11 Mei 2021. Berita tersebut berjudul ‘The Latest Israel-Palestina Crisis isn’t a ‘real estate dispute,’ it’s ethnic cleansing’. Informasi pada berita tersebut tidak hanya memaparkan tentang pergeseran enam rumah warga Palestina di Yerusalem Timur, tapi juga memberitakan adanya dugaan pembantaian etnis.
“Dari statement tersebut, kita bisa lihat bahwa media ini sangat anti-Israel dan mendukung Palestina. Sebagai media Left mereka liberal yakni Democratic yang pro dengan Palestina,” jelas Salieg.
Berita lainnya juga disampaikan oleh Media NBC di Amerika Serikat yang menyatakan bahwa terdapat peningkatan dukungan oleh masyarakat Amerika Serikat kepada Palestina. Bahkan selama konflik terjadi, beberapa aksi protes telah dilakukan di kota besar di negara bagian Amerika, seperti New York, Miami, dan Los Angeles. Demonstrasi tersebut lebih sering diikuti oleh generasi muda.
“Generasi muda ini lebih terbuka terhadap berbagai media informasi karena perkembangan teknologi. Mereka juga sangat terbuka terhadap media sosial, seperti facebook, twitter, snapchat, tiktok dan blog sehingga mereka lebih banyak menerima narasi dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya,” imbuhnya
Sebaliknya, Media Fox memberitakan tentang pendapat Dennis Prager terkait meningkatnya dukungan masyarakat Amerika terhadap Palestina sebagai anti-semiotik, yakni dengan membawa isu agama sebagai penyebab konflik.
“Ini sangat terlihat bahwa berita di Amerika sangat bias. Bias antara dua sisi, bukan ke berbagai arah tetapi hanya ke kedua sisi yang merefleksikan kedua spektrum politik di sini,” pungkas Salieg. Humas UNS
(Qur'anul Hidayat)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik