Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Orasi Ilmiah Deputi IV Kemenko PMK di Rapat Senat Terbuka Dies Natalis ke-64 FEB UGM

Fakhri Rezy , Jurnalis-Kamis, 19 September 2019 |19:47 WIB
Orasi Ilmiah Deputi IV Kemenko PMK di Rapat Senat Terbuka Dies Natalis ke-64 FEB UGM
Alumni UGM Agus Sartono (Foto: Dok UGM)
A
A
A

YOGYAKARTA - Seiring berjalannya waktu, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) terus mengubah dirinya ke arah yang lebih baik. Tidak hanya soal nama, FEB UGM kini terus berusaha memperbaiki diri agar dapat semakin berkiprah di kancah internasional.

Yang terbaru adalah FEB UGM menginisiasi program internasionalisasi baik di level strata satu maupun starta dua serta program staff and faculty exchange. Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM merupakan satu-satunya Fakultas Ekonomika dan Bisnis di Indonesia yang terakreditasi oleh ASCSB. Tentu bukan hal mudah untuk mendapatkan akreditasi tersebut.

Baca juga: Bimasakti, Mobil Rakitan UGM Menang di Student Formula Japan 2019

Kiprah UGM agar dapat terus berpartisipasi dalam pembangunan bangsa diwujudkan tidak hanya dalam bentuk kegiatan riset dan pengabdian masyarakat, FEB UGM juga tercatat memiliki para alumni yang kini menduduki berbagai jabatan penting di pemerintahan. Salah satu alumni FEB UGM saat ini menjabat sebagai Deputi bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama, Kemenko PMK, Agus Sartono.

Alumni UGM Agus (Dok UGM)

Pada Rapat Senat Terbuka dalam rangka Peringatan Puncak Dies Natalis ke-64, Kamis Pagi di Auditorium Pusat Pembelajaran FEB UGM, Bulaksumur, DI Yogyakarta, dan dipimpin oleh Ketua Senat Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Prof. Marwan Asri, Agus berkesempatan menyampaikan orasi ilmiah bertajuk: “Bisnis Digital: Tren dan Perubahan Lanskap Keuangan.” Rapat Senat Terbuka ini dihadiri oleh para guru besar, dosen, mahasiswa, alumni, tenaga kependidikan, dharma wanita dan mitra FEB UGM.

Baca juga: DC Mouse, Hardware Khusus bagi Penyandang Tunadaksa untuk Akses Internet

Perubahan lingkungan bisnis akhir-akhir ini diwarnai dengan munculnya berbagai perusahaan rintisan (startup) yang memanfaatkan teknologi untuk menunjang bisnisnya. Perusahaan Start up ini diketahui berumur masih sangat muda tetapi punya valuasi bisnis bernilai jutaan hingga miliran dolar.

“Bisnis digital merupakan tren di kalangan masyarakat namun terdapat risiko yang tidak disadari oleh masyarakat dan juga investor terutama terkait dengan penilaian perusahaan semacam ini. Konsep penilaian bisnis yang diajarkan di sekolah bisnis nampaknya perlu dikaji lagi apakah masih sesuai dan dapat diterapkan untuk menilai perusahaan-perusahaan teknologi?” ujar Agus dalam orasinya.

Baca juga: Wapres JK: Semakin Sederhana, Pancasila Bisa Dihayati

Selain itu, Agus juga menekankan perlunya kewaspadaan baik imbas maupun risiko yang akan dialami seiring bertumbuhnya aneka model bisnis digital. “Akses kemudahan permodalan atau pinjaman dari perusahaan Fintech misalnya, tentu dapat mengancam keuntungan yang diperoleh dari layanan perbankan konvensional, baik sebagai layanan jasa perbankan maupun kredit. Masyarakat juga perlu diedukasi bahwa kemudahan pinjaman itu tidak dipergunakan utk konsumsi tetapi untuk kebutuhan usaha misalnya,” papar Agus yang ditemui media usai acara.

Kewaspadaan itu secara keseluruhan tentu akan dampak meluas bagi perekonomian negara dan masyarakat. “Pelajaran dari perusahaan rintisan yang mampu bertahan dan menguntungkan adalah dengan adanya inovasi yang mampu mengubah peta persaingan, menciptakan segmen pasar baru, menciptakan produk yang tidak pernah ada sebelumnya, dan menciptakan proses yang sama sekali baru dan lebih efisien,” tambah Agus lagi.

Dalam orasi ilmiahnya ini, Agus justru mengungkapkan kerisauannya terhadap model penilaian perusahaan. Selama ini, menurutnya, corporate value dapat diukur menggunakan discounted cash flow model; multiple model; atau menggunakan option pricing model. Discounted cash model pada dasarnya dilakukan dengan cara free cash flow diukur nilainya sekarang menggunakan discount rate. Model ini mensyaratkan adanya free cash flow yang positif. Persoalan muncul karena begiu banyak bisnis digital yang bahkan belum membukukan laba, tetapi nilai perusahaannya sangat tinggi.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement