Kemudian tulang dipotong menjadi bagian kecil-kecil dengan ukuran 10 x 10 x 10 mm. Lalu dipanaskan pada oven hingga suhu 1.200 derajat celcius ditahan selama 2 jam serta dilakukan proses sterilisasi bahan.
“Kita memilih tulang sapi karena kita ingin memanfaatkan produk lokal dan tulang sapi ini biasanya belum dimanfaatkan secara maksimal. Sehingga kami berusaha untuk bisa memaksimalkan manfaat dari tulang sapi ini, dan tentunya harganya juga murah,” katanya.
Sedangkan untuk bone graft impor terbuat dari bahan sintetis atau dari bahan-bahan kimia.
“Material yang biasa digunakan di RS masih impor (sebagai contoh produk impor Bio-oss, Bongros dari Korea. Harga produk impor ini sangat mahal yaitu Rp1,7 juta per 5 cc dan produk ini sudah masuk e-catalog.lkpp.go.id. Sedangkan kalau kita pakai Semar bone graft ini harganya jauh lebih murah yaitu Rp400.000 per 10 cc,” terang Joko.

Joko berharap hasil temuannya bersama tim ini nantinya bisa dikembangkan dan ada kerjasama dengan industri. “Sudah kami lakukn uji coba dengan tikus putih kerjasama dengan Fakultas Peternakan UGM, hasilnya tidak ada peradangan, tidak ada infeksi dan ada tulang yang tumbuh,” katanya.
Joko dan tim sejak tahun 2016 mulai melakukan penelitian ini. Bahkan berkat temuannya ini, ia memperoleh hibah Calon Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) dari Kemenristekdikti senilai Rp200 juta.
(Rani Hardjanti)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik