Riding the moment adalah salah satu strategi jitu pemasaran, namun tidak semua momen bisa ditunggangi, dan setiap negara punya kondisi yang berbeda sehingga jangan sampai hal ini menjadi blunder karena menyentuh hal sensitif. Saya sempat berpikir apa mungkin tim kreatifnya terinspirasi dari konten viral di media sosial, ya? Di mana sejumlah anak muda mengampanyekan pasangan imajiner Nurhadi-Aldo, disingkat DILDO, dan sempat menjadi perhatian utama. Prinsipnya yang penting viral.
Kasus dari salah perkiraan riding the moment yang baru terjadi lainnya adalah tagar #uninstallbukalapak dan menjadi trending topic atau pembicaraan nomor satu di Indonesia. Ini disebabkan oleh salah satu cuitan bos Bukalapak yang menyinggung “presiden baru”. Meskipun akhirnya pihak Bukalapak minta maaf kepada pendukung Presiden Joko Widodo, hal ini pastinya sudah memberikan citra buruk dan kerugian tidak sedikit bagi Bukalapak.
Seperti peribahasa di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung, suatu organisasi atau perusahaan harus sensitif terhadap situasi dan kondisi bangsa tempat mereka beroperasi. Tentunya, tanpa harus mengorbankan kreativitas itu sendiri, ataupun berlindung atas nama kreativitas dan bisa berbuat semaunya.
Kreativitas lain yang tidak peka terhadap isu sensitif misalnya pada iklan Shopee dengan menggunakan tokoh publik dari negara lain “Blackpink” untuk menarik perhatian. Produk e-commerce tersebut diboikot oleh beberapa pihak karena dianggap sebagai tayangan yang kurang mendidik, khususnya anak-anak, karena mempertontonkan sekelompok perempuan mengenakan pakaian pas-pasan, dianggap seronok dan jauh dari cerminan nilai Pancasila.
Kasus Shopee kemudian menjadi viral, bahkan masalah ini membuat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengambil keputusan dengan melayangkan peringatan keras kepada 11 stasiun televisi yang menayangkan iklan tersebut.
Berbeda dengan kondisi di Indonesia dengan di luar negeri, misalnya di Amerika, isu ras masih menjadi masalah besar di negara tersebut. Perusahaan besar seperti Starbucks pernah tersandung kasus dengan kampanye #RaceTogether. Niat Starbucks sejatinya baik, ingin perusahaannya memiliki tanggung jawab untuk menangani hubungan antarras Amerika dengan cara menggugah percakapan, kasih sayang, dan tindakan di sekitar ras, sementara mereka menunggu kopi disiapkan. Namun apa yang terjadi, malah disambut dengan reaksi negatif, cemoohan dari para wartawan dan para pengguna media sosial.
Manajemen atas perusahaan boleh saja diisi oleh orang asing, yang memang semakin umum kita lihat, mereka mungkin saja membawa ilmu baru namun kurang memahami kondisi nasional dan kearifan lokal. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kita yang merupakan figur pendukung dalam perusahaan harus mengingatkan atasan kita, menjadi penjaga akhir dari apa yang akan kita kreasikan, paling tidak sudah berusaha mengingatkan.
Karena selain dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif, kita juga wajib mencerdaskan sesama anak bangsa, bukan hanya mengikuti orientasi dari sebuah bisnis yang sekadar mencari keuntungan sebanyak-banyaknya melalui kampanye pemasaran yang sukses dan menjadi pembicaraan, atau bahkan hanya prinsip “yang penting viral”.
Romano BhaktinegaraJurnalis, PR & Marketing Expert
(Feby Novalius)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik