LAMPUNG – Pemerintah bakal kembali mendanai proyek infrastruktur di 20 PTN melalui Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).
Dana ini digunakan untuk menunjang fasilitas seperti gedung kuliah dan laboratorium. Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir mengatakan, tahun lalu PTN penerima dana SBSN yakni Institut Teknologi Sumatera (Itera) di Lampung, Universitas Teuku Umar di Aceh, Universitas PattimuradiAmbon, Universitas Borneo di Tarakan, Universitas Sembilanbelas November di Kolaka dan Politeknik Negeri Fakfak di Papua Barat. Mantan rektor Universitas Diponegoro ini melanjutkan, ke depan Kemenristekdikti akan mengusulkan 20 PTN lagi yang akan mendapatkan pendanaan dari SBSN yang di kelola Kementerian Keuangan ini.
Baca Juga: Menristekdikti Lobi Sri Mulyani agar Perguruan Tinggi Tidak Kena Pajak Penghasilan
“Kami akan usulkan 20 PTN yang akan mendapatkan SBSN ini. Nanti kami akan kerja sama dengan Bappenas untuk menentukan PTN mana yang akan menerima dana,” katanya saat peresmian gedung kuliah dan Laboratorium Teknik Itera di Lampung, kemarin.

Menristek-Dikti menambahkan, dana yang diterima kampus tidak besar atau berada di kisaran Rp100 miliar. Namun, dana ini bisa dipergunakan untuk menambah ruang kelas atau gedung laboratorium seperti yang dibangun Itera.
Baca Juga: 9 Kampus dengan Publikasi Riset Terbanyak di Indonesia
Fasilitas seperti ini, jelasnya, sangat menunjang agar sistem pengajaran di kampus semakin berkualitas. Nasir menjelaskan, dana SBSN memang sebaiknya digunakan untuk pembangunan infrastruktur kampus dan bukan pengembangan sumber daya manusia.
Kalaupun untuk peningkatan kualitas dosen, bisa dengan memakai dana LPDP yang juga di bawah alokasi Kemenkeu. “Jadi kalau mau mencapai program doktor, para dosennya bisa memakai LPDP. Sekarang LPDP sudah mencapai Rp60 triliun,” katanya.
Nasir menuturkan, saat ini orang-orang hanya memandang Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai fakultas teknik terbaik di Indonesia. Namun ke depan, pemerintah menginginkan Itera menjadi mercusuar di bidang sains dan teknologi di Pulau Sumatera.
Pasalnya, di Pulau Sumatera kaya dengan sumber daya alam sehingga perguruan tinggi pun harus bisa berperan serta dalam menghasilkan inovasi untuk mengolah kekayaan alam tersebut. Menurut dia, potensi kelapa sawit di Sumatera sangat besar.
Karena itu, diharapkan ada peran perguruan tinggi untuk bisa mengolah kelapa sawit itu menjadi bahan bakar minyak. Sehingga negara tidak lagi ketergantungan akan impor. “Impor BBM per hari itu 400.000 barel. Dalam setahun USD17,6 miliar. Jika bisa ada supply di dalam negeri atau dari Sumatera ini maka kita tidak usah impor lagi,” katanya.
Mengenai kualitas dosen, dia berharap dalam kurun waktu lima tahun semua dosen di Itera bisa bergelar S-3 semua, sebab Nasir memiliki mimpi bahwa dosen yang bergelar S-3 bisa di bawah usia 40 tahun.
Dia menjelaskan, jika memilih bekerja menjadi dosen maka jangan tanggung-tanggung untuk mengejar gelar. Sebab pemerintah pun banyak menyediakan program beasiswa untuk kuliah lagi. Menristek-Diktipun berharap gedung kuliah atau ruang laboratorium yang dibangun kampus bisa digunakan bersama.
Tidak lagi menjadi hak eksklusif satu fakultas, jurusan, atau program studi. Sementara Rektor Itera Ofyar Z Tamin menjelaskan, dana SBSN yang diterima kampusnya mencapai Rp129 miliar. Dana tersebut pun dipakai untuk memenuhi fasilitas sarana-prasarana seperti gedung dan peralatan laboratorium serta furnitur.
Dia mengatakan, fasilitas laboratorium dan gedung ini sangat diperlukan karena keduanya adalah tulang punggung suatu institut teknologi. “Kami ingin lulusan kami bisa langsung bekerja di Sumatera dengan bidang yang sesuai dibutuhkan daerah,” jelasnya.
(Rani Hardjanti)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik