YOGYAKARTA – Konsekuensi yang paling sering terjadi akibat stroke adalah hemiplegia dan hemiparesis. Hemiplegia adalah jika satu tangan atau satu kaki atau bahkan satu sisi wajah menjadi lumpuh dan tak dapat bergerak sementara hemiparesis terjadi bila satu tangan atau satu kaki atau satu sisi wajah menjadi lemah, namun tak sepenuhnya lumpuh.
Ada berbagai terapi yang biasa dilakukan, mulai dengan menggerakkan bagian tubuh yang lumpuh hingga dengan bantuan terapis.
Baca Juga: 3 Mahasiswa UNY Ciptakan Robot yang Bisa Cek Rel KA
Peran teknologi tentu sangat dibutuhkan untuk memudahkan dalam pelatihan, monitoring, pengontrolan dan membantu pasien secara otomatis. Berawal dari kondisi ini keempat mahasiswa program studi teknik elektro fakultas teknik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menciptakan inovasi yang diberi nama ATASI (Alat Terapi Otot dan Sendi) bagi penderita stroke dengan kontrol dari smartphone Android.
Mereka adalah Singgih Bekti Worsito, Hernawan Prabowo, Anggun Fitria Agung, Muhammad Giffari Anta Pradana dan dibawah bimbingan dosen Program Studi Pendidikan Teknik Elektro Fakultas Teknik UNY Muhammad Ali, M.T.

“Inovasi ini adalah alat terapi otot dan sendi untuk penderita stroke dengan kontrol smartphone android. Jadi Atasi merupakan solusi tepat yang dapat digunakan untuk membantu pelatihan, monitoring dan pengontrolan secara otomatis serta dilengkapi dengan graphic user interface (GUI) pada Smartphone Android,” ujar Singgih, dalam keterangan UNY, Jumat (28/9/2018).
Baca Juga: Keripik Daun Jati, Ternyata Bisa Cegah Penyumbatan Pembuluh Darah
Dia menjelaskan Aplikasi Android ini berfungsi untuk mengatur sudut dan kecepatan perputaran motor.
“Dari situ motor akan menggerakkan lengan otot dan sendi pasien yang telah kaku dan perlu diterapi,” lanjut Singgih.

Atasi memiliki tiga fitur utama, yaitu full automatic, semi-automatic, dan manual. Replikasi fisioterapi tersebut menjadi exercise bagi pasien yang bermanfaat untuk membangun kembali fungsi kerja tubuh.
“Fungsi utama dari alat ini adalah membantu terapi pasien dalam proses pemulihan akibat hemiplegia dan hemiparesis yang dapat dikontrol melalui smartphone Android.” Jelasnya
Menurut Singgih, Atasi bekerja pada tegangan minimal 5 volt DC dengan beban maksimal 10 kg. Alat terapi ini terdiri dari beberapa komponen utama yaitu Bluetooth HC-05, box control, IC ATMega328 Arduino Uno, driver motor, power window sebagai aktuator. Bagian box control ini memiliki ukuran 15cm x 10cm, 8cm dan papan penopang lengan memiliki panjang 400 mm dan lebar 80 mm.
(Feb)
(Rani Hardjanti)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik