Mahasiswa seni memang sangat kreatif dalam menjadikan hal-hal di sekitar menjadi inspirasi. Contoh saja Santa, ia mendapat inspirasi dari visualisasi karat.
“Dalam pembuatannya, aku menggabungkan berbagai ragam teknik surface textile yang memunculkan tampilan rustik dan eklektik pada kain jadi kelihatannya seperti karat.” Jelas Santa.
Berbeda lagi dengan Quina yang mengeksplorasi motif tapis kaca dengan menggunakan serat dan pewarna alami dalam karyanya. Karya Quina memiliki keunikan tersendiri karena pembuatan tekstilnya pun ia kerjakan sendiri. Tidak hanya itu, kekayaan alam juga dapat menjadi inspirasi untuk Rindrianti. Bentuk lamella jamur tiram yang unik diaplikasikan pada pakaian dengan teknik bordir dan pleats untuk memainkan tekstur dan volume.
Didampingi dosen Kriya Tekstil ITB Nadia Arfan mengatakan, bahwa karya mahasiswa tingkat akhir itu sudah pernah ditampilkan di kampus namun belum diperagakan kepada khalayak umum. Tiap karya tugas akhir dari para mahasiswa bisa ditampilkan 2-3 kali dalam jangka waktu satu tahun.
Dalam mengikuti perhelatan fashion ini, Nadia dan Sabrina selaku pendamping memiliki harapan agar masyarakat mendapatkan gambaran bahwa kriya berbeda dengan fashion. Kriya lebih fokus pada pengolahan material atau pemanfaatan potensi material, yang masih mengangkat unsur budaya Indonesia dengan menggunakan teknik tunggal atau perpaduan teknik dalam proses pembuatannya.
“Kriya lebih mengutamakan keterampilan tangan dan desainer dibandingkan dengan tren yang ada,” ujar Sabrina.
(Rani Hardjanti)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik