Sejak menjadi petani garam dengan cara merebus, Azhar bisa menyekolahkan anak-anaknya dari hasil menjual garam tradisonal. Zulkiram, anak tertua Azhar telah berhasil menyandang gelar sarjana Ilmu Komunikasi di Universitas Iskandar Muda Banda Aceh, dari hasil garam. Sedangkan anaknya yang lain, Intan dan Nadiatul tengah menempuh pendidikan di sekolah menengah atas dan taman kanak-kanak.
"Padahal bekerja menjadi petani garam uangnya lebih cepat. Hari ini kita masak hari ini juga kita punya (uang) dibandingkan dengan pekerjaan lain. Anak saya yang tua baru selesai kuliah. Saya biaya kuliah mereka dari uang hasil jual garam," cetus Azhar dengan wajah tersenyum di bawah pohon cemara saat kami berbincang.
Kendati demikian, Azhar merasa khawatir dengan kebijakan pemerintah dalam melakukan impor garam industri mencapai 3,7 ton. Tentu kebijakan itu akan mengancam kestabilan ekonomi keluarganya yang bertumpu kepada garam, yang disebabkan produksi dan pemasaran garam tradisional terganggu.
“Kalau pemerintah menambah impor garam, sayang kami petani lokal. Otomatis harga jual garam kami menurun. Dengan masuknya garam luar jelas harga garam lokal menjadi murah, dan petani tidak ada yang mau kerja lagi lantaran hasil yang mereka terima tidak sesuai dengan jerih payahnya,” pungkas Azhar.
(Susi Fatimah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik