Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Perjuangan Petani Garam di Aceh Sekolahkan Anak hingga Sarjana

Khalis Surry , Jurnalis-Sabtu, 31 Maret 2018 |12:10 WIB
Perjuangan Petani Garam di Aceh Sekolahkan Anak hingga Sarjana
Foto: Khalis Surry/Okezone
A
A
A

Sedangkan, produksi garam kedua dilakukan dengan cara pasir bercambur air itu dijemur di bawah bedeng yang telah tertutupi kertas plastik bening. Sistem jemur, membutuhkan waktu sekira 15 hari lebih baru dapat memetik hasil panennya. Dalam sebulan, perkiraan Azhar, mereka bisa panen garam dari sembilan bedeng sebanyak dua kali. Jika hasil satu bedeng hasilnya mencapai satu ton, maka dua kali panen dalam sebulan mencapai 18 ton garam yang dihasilkan. Namun, dengan cara seperti ini garam bisa diproduksi ketika cuaca terik, jika hujan mereka libur.

''Sehari bisa dua kali masak (garam), hasilnya mencapai 60 kilogram. Kalau yang dijemur itu satu bedeng (hasil produksinya) antara 700 kilogram hingga satu ton garam,'' ungkap Azhar.

Kini, Azhar menjual garam tradisional hasil produksinya itu dengan harga antara Rp7 ribu hingga Rp8 ribu per kilogramnya. Ia berkisah, sejak 20 tahun yang lalu harga garam dapat dibandrol dengan harga hanya Rp3 ribu per kilogram. Sebab itu, menurutnya, mungkin itu salah satu dari sekian banyak penyebab atas banyaknya petani garam yang banting stir dan beralih mencari pekerjaan lain.

“Mungkin mereka yang sudah meninggalkan pekerjaan ini lantaran faktor capek. Apa lagi kalau anak muda, mana mau mereka kerja di bawah terik matahari nanti pasti hitam. Tapi kalau harga rendah mungkin tidak sesuai dengan pekerjaan, tapi kalau harga sekarang hingga (rupiah) 8 ribu jadi kita senang,'' ujarnya.

Menurut Azhar, menjadi petani garam salah satu pekerjaan yang cepat mendapatkan upah. Sehari bisa memasak dua kali garam, dan hasil produksi itu langsung dapati dijual ke pasar-pasar yang ada di wilayahnya, Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement