Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Promosi Doktor Penciptaan Seni, Mahasiswa S-3 ISI Yogya Teliti Pengaruh Stereotip Tubuh Perempuan di Media

Susi Fatimah , Jurnalis-Selasa, 24 Oktober 2017 |13:52 WIB
Promosi Doktor Penciptaan Seni, Mahasiswa S-3 ISI Yogya Teliti Pengaruh Stereotip Tubuh Perempuan di Media
Foto: Shutterstock
A
A
A

Lebih lanjut Yustina menuturkan, penelitian ini berada dalam ranah seni pertunjukan di Indonesia, dan dianalisis dengan mendialogkan konsep satire (Paul Simpson), konsep estetika sebagai politik dan konsep rezim seni (Jacques Rancière).

"Proses penelitian menggunakan metode life history (Sam Pack), yaitu merujuk pada penceritaan pengalaman-pengalaman hidup seseorang yang diceritakan oleh orang tersebut pada peneliti," tuturnya.

Sementara itu, gambaran singkat hasil penelitian ini yaitu Pertama, dalam berkarya, Sahita memadukan unsur-unsur visual (tampil sebagai perempuan lanjut usia yang lincah dan jenaka), suara (tembang/nyanyian, dialog, akapela), gerak (olah tubuh dan gerakan tari), bunyi (musik), dan “ruang kosong” atau “area main-main” yang terbuka di sepanjang pertunjukan.

Kedua, inspirasi karya Sahita berasal dari pengalaman pribadi para personel Sahita dan isu yang berkembang di masyarakat. Ketiga, Sahita memilih menggelar lakon dengan gaya satire dan menggunakan tawa sebagai perisai, karena dengan gaya satire Sahita bisa mengatakan apa yang sulit dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari. Keempat, di tengah kegelisahan dalam melahirkan karya, keberadaan Sahita terombang ambing di antara tiga rezim seni yang tarik menarik di setiap karya mereka, yaitu rezim etik, rezim representatif, dan rezim estetik. Kelima, menanggapi dominasi televisi, Sahita memilih menerima, berkompromi, dan menikmati irama yang ditawarkan media televisi.

"Estetika sebagai politik terasa kuat pada saat Sahita tampil di panggung pertunjukan langsung, dan meskipun samar, masih terasa secara visual dalam penampilan Sahita di layar televisi. Komitmen Sahita dalam menyuarakan permasalahan kaum perempuan merupakan kategori politik yang selalu hadir dalam pertunjukan mereka, karena itu, estetika sebagai politik menyatu dalam karya-karya Sahita," paparnya.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement