Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

HARI MERDEKA: Sejarah Panjang Potret Pendidikan di Indonesia

Siska Permata Sari , Jurnalis-Kamis, 17 Agustus 2017 |09:11 WIB
HARI MERDEKA: Sejarah Panjang Potret Pendidikan di Indonesia
Foto: Wikipedia
A
A
A

JAKARTA - Pendidikan di Indonesia mempunyai sejarah yang cukup panjang. Peperangan dan penjajahan mewarnai perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia.

Di zaman Belanda menguasai Indonesia, pendidikan adalah suatu yang mahal untuk bangsa pribumi. Sekolah-sekolah yang didirikan di masa penjajahan Belanda pun, pada mulanya hanya bisa dirasakan anak-anak golongan bangsawan, priyayi, dan pegawai negeri saja.

Saat itu, di tahun 1848, Pemerintah Hindia Belanda mulai menerbitkan peraturan pendidikan dasar bagi masyarakat yang kemudian dimatangkan pada 1892. Sekolah hanya ada di keresidenan, kabupaten, kawedanan, pusat kerajinan dan perdagangan saja.

Untuk pendidikan bagi anak di usia enam tahun, ada Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang didirikan di Indonesia pada 1914. Anak-anak Indonesia yang belajar di sini pun hanya anak-anak "istimewa" yang orang tuanya terpandang atau memiliki gelar bangsawan.

Sangat jauh berbeda dengan pendidikan masa kini yang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, di HIS, murid-murid menggunakan bahasa Belanda.

Selain HIS, untuk sekolah dasar, ada pula Europeesche Lagere School (ELS). Bedanya dengan HIS, sekolah yang didirikan ssejak 1817 ini hanya terbuka bagi warga Belanda di Indonesia saja. Namun seiring berjalannya waktu, ELS mulai dibuka bagi pribumi 'istimewa' dan warga Tionghoa di Indonesia pada 1903.

Lanjut ke sekolah menengah pertama, sebelum kemerdekaan Indonesia memiliki Hoogere Burgerschool (HBS) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Bedanya, bila HBS masa belajarnya hingga lima tahun, sementara MULO hanya tiga tahun. Namun, bila melanjutkan pendidikan di HBS, para lulusan bisa langsung menempuh pendidikan tinggi ke tingkat yang setara dengan universitas.

Presiden RI Pertama kita, Ir. Soekarno merupakan lulusan HBS di Surabaya sebelum dirinya melanjutkan pendidikannya di Technische Hoogeschool (TH) Bandung yang kini dikenal dengan nama Institut Teknologi Bandung (ITB).

Masyarakat pribumi biasanya menempuh pendidikan dimulai dari HIS, MULO, dan AMS atau Algemeene Middelbare School yang setara dengan tingkat sekolah menengah atas (SMA). Hingga di permulaan abad ke-20 jalur pendidikan tingkat menengah di Indonesia masih sangat terbatas.

Untuk dapat meneruskan ke tingkat universitas saja, anak-anak Indonesia harus mengenyam pendidikan di HBS, suatu sekolah lanjutan selama lima tahun yang hanya bisa dimasuki kaum Belanda, Eropa, dan pribumi pilihan seperti bangsawan, priyayi, dan pegawai negeri.

Jumlahnya pun tidak tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Saat itu, pendidikan seperti berpusat di Pulau Jawa. Pada 1915, HBS sendiri hanya ada di Batavia, Surabaya, Semarang, dan Bandung.

(Susi Fatimah)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement