BANDARLAMPUNG - Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis akan hilang di tengah masyarakat dan lenyap dari catatan sejarah.
"Menulis adalah bekerja untuk keabadian," ujar Darwis Tere Liye, saat menjadi pemateri Studium Generale yang digelar Program Minat Bakat Institut Informatika dan Bisnis (IBI) Darmajaya di Gedung Sumpah Pemuda, PKOR Way Halim, Bandarlampung, baru-baru ini.
Mengusung tema "Raihlah Dunia dengan Karya, Ubahlah Dunia Melalui Semangat Pemuda", dalam kegiatan yang diikuti 1.200 mahasiswa program minat bakat dan peserta umum, penulis Tere Liye menyampaikan materi tentang kepenulisan.
Penulis novel best seller berjudul "Hafalan Shalat Delisa", "Bidadari-Bidadari Surga", "Pulang", dan "Hujan" ini berbagi pengalaman, tips trik, serta memotivasi para mahasiswa untuk aktif dan kreatif berkarya melalui tulisan.
Para mahasiswa pun terlihat sangat antusias dan bertanya kepadanya. "Jadikan aktivitas menulis sebagai hobi, sehingga kita tidak merasa terpaksa, terbebani untuk melakukannya. Melalui tulisan kita bisa bercerita tentang pengalaman pribadi, kisah orang lain, menyampaikan informasi, ide, pemikiran, inspirasi, dan memotivasi orang lain," ujar penulis yang juga terkenal melalui 'quotes' dalam karyanya itu.
Menurut Tere Liye, perkembangan era digital saat ini khususnya media sosial seharusnya bisa menjadi wadah bagi pemuda untuk menulis hal yang positif. Bukan hanya menjadi followers, haters atau pemberi komentar tak berarti.
"Untuk menjadi penulis terkenal, tidak harus menulis novel. Tulislah hal-hal yang kalian suka, bisa tentang sastra seperti puisi, artikel dalam koran seperti opini, menulis keseharian dalam blog seperti resep masakan, dan masih banyak lainnya," katanya pula.