SEMARANG - Kita mengenal Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Tokoh nasional ini giat memperjuangkan pendidikan melalui sekolah yang dia dirikan yaitu Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922.
Sukses dalam membina dunia pendidikan, pria yang bernama asli Suwardi Suryaningrat itu lantas menjabat sebagai Menteri Pengadjaran era Soekarno pada 2 September 1945 -14 November 1958. Kemudian, dia juga mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional kedua.
Penulis buku "Masterpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri 1830-1945", Zainul Milal Bizawie, menyebut, Ki Hajar Dewantara juga merupakan seorang santri. Dia menimba ilmu agama di kawasan Prambanan, Magelang. Hal itu juga tercatat di Sejarah Taman Siswa.
"Salah satu gurunya adalah seorang Kiai namanya Kiai Sulaiman Zainuddin, di kawasan Prambanan. Santrinya banyak, salah satunya Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Dia seorang santri, tapi sayang sejarahnya Ki Hajar Dewantara dulu belajar Alquran tidak pernah diterangkan oleh guru-guru di sekolah," ujarnya.
Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Walisongo Semarang, Rikza Chamami, menyampaikan, peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2016 mestinya menjadi refleksi untuk meneladani perjuangan Ki Hajar Dewantara.
"Tidak benar jika Hardiknas hanya berisi pawai, upacara dan lomba-lomba yang isinya tidak edukatif. Bangkitkan pendidikan Indonesia dengan visi kemajuan dan perdamaian," tutur Rikza kepada Okezone, Senin (2/5/2016).
Rikza mengatakan, penentuan 2 Mei sebagai Hardiknas merupakan hari lahir Raden Mas Suwardi Suryaningrat di Pakualaman 2 Mei 1888. Kemudian, dia berganti nama pada 1922 menjadi Ki Hajar Dewantara.