YOGYAKARTA – Di pelataran rumah bercat hijau, Bagas Wahyu Setiyaningsih dengan ramah melayani pembeli mi ayam. Jari tangannya yang lentik seakan terbiasa menyajikan bumbu mi ayam kepada konsumen yang sudah lama menanti.
Mahasiswi Jurusan Ilmu Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM), ini jika tidak sedang kuliah sesekali terjun langsung membantu ayahnya yang menjual mi ayam. Semangat membantu orangtua dan belajar sudah ditunjukkan Bagas saat duduk di SMA 2 Magetan.
Sejak pagi hari, dia sudah berangkat ke sekolah menaiki sepeda motor ke SMAN 2 Magetan dari rumahnya di Pucanganom, Kendal, Ngawi. Setidaknya 16 km jarak yang harus ditempuh Bagas untuk menuntut ilmu ke sekolah. Usai belajar, dia lekas membantu orangtuanya menjual mi ayam.
Meskipun harus menempuh jarak yang cukup jauh dan berliku dari kaki Gunung Lawu, prestasi Bagas di sekolah cukup bagus. Masuk peringkat lima besar di kelas selalu menjadi langganan Bagas. Semangat dan disiplin dalam belajar ini akhirnya tidak sia-sia. Akhirnya dia diterima masuk di Jurusan Ilmu Keperawatan UGM melalui jalur Bidikmisi.
"Alhamdulillah senang rasanya bisa diterima di UGM," kata Setiyaningsih bersemangat, seperti dikutip dari laman UGM, Sabtu (20/6/2015).
Anak bungsu dari pasangan suami istri Rahmanto dan Suprapti ini memilih Jurusan Ilmu Keperawatan di UGM bukanlah tanpa alasan. Selama ini, Bagas memang cukup aktif dalam kegiatan pramuka dan PMR di sekolahnya. Bahkan, sebelum ada kepastian masuk ke UGM, dirinya telah diterima pula di sebuah Poltekkes.
“Sama-sama memilih perawat sebelum ada pengumuman dari UGM,” kata gadis kelahiran 14 Agustus 1997 ini.
Berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi seadanya, Bagas tidak merasa minder meskipun ayahnya, Rahmanto adalah penjual mi ayam di pasar. Sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga. Penghasilan keluarga ini per bulan sekira Rp1 juta.
Menurut Suprapti, ayah Bagas, dia sebenarnya sering sakit-sakitan dan pernah masuk rumah sakit karena menderita maag kronis. Jika Rahmanto tidak bekerja menjual mi ayam, Bagas pun ikut membantu berjualan.
“Sakit maag bahkan sampai keluar darah. Kalau enggak jualan ya enggak dapat pemasukan, Mas,” tutur Suprapti.
Kini, setelah Bagas diterima di UGM melalui Bidikmisi, keluarga berharap nantinya dia bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa meringankan beban orangtua.
(Rifa Nadia Nurfuadah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik