JAKARTA - Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) menyelenggarakan kuliah umum dengan tema 'Yang Muda yang Memimpin Prospek Kepemimpinan di Daerah'.
Pembicara yang tampil pada acara tersebut adalah Bupati Bantaeng Prof Dr Ir Nurdin Abdullah dan Wali Kota Bogor Bima Arya. Diskusi dipandu oleh dosen komunikasi politik UMN, Dr Gun Gun Heryanto.
Menurut Ketua Prodi Ilmu Komunikasi UMN, Dr Bertha Sri Eko, ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Tim Dosen Mata Kuliah Komunikasi Politik, Prodi Ilmu Komunikasi UMN.
“Jika pada tahun sebelumnya tema acara berkaitan dengan hajatan besar negeri ini, yaitu Pemilihan Presiden 2014, maka tahun ini kegiatan tersebut dikaitkan dengan prospek kepemimpinan kaum muda yang pada saat ini banyak bermunculan di sejumlah daerah di Indonesia," ujar Bertha, seperti keterangan tertulis yang diterima Okezone, Jumat (19/12/2014).
Sementara menurut penanggung jawab acara yang juga dosen koordinator komunikasi politik UMN, Gun Gun Heryanto, kegiatan ini sesuai temanya yang merupakan bagian dari upaya menampilkan sosok-sosok pemimpian muda yang transformasional. Sosok pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang mampu menggerakkan harapan rakyat untuk senantiasa melakukan perbaikan-perbaikan.
"Pemimpin transformasional dapat diidentifikasikan dengan sejumlah hal. Pertama, mereka yang memiliki refleksivitas yang memadai. Refleksivitas pada dasarnya merujuk pada kemampuan aktor untuk memonitor tindakan-tindakan dan perilaku mereka. Sebagian besar refleksivitas didasarkan pada pengalaman masa lalu yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang," bebernya.
Kedua, lanjut Gun Gun, pemimpin transformasional harus memiliki basis asketisme politik yang memadai. Asketisme politik secara umum dapat dipahami sebagai upaya menjalankan aktivitas berpolitik berdasarkan pada prinsip kesederhanaan dan etika, serta memproyeksikan tindakannya demi kemaslahatan rakyat banyak.
"Caranya, berpolitik tidak dengan mengedepankan kepentingan pribadi untuk mengejar kekuasaan dan kekayaan semata-mata, melainkan demi kemaslahatan bangsa dan negara. Ketiga, memiliki sumber daya politik yang memadai untuk mendukung performa dan kinerjanya. Pemimpin terpilih harus mengantongi kekuasaan yang sah sebagai produk dari pemilu langsung," ucapnya.
Proses lahirnya pemimpin transformasional memang tidak mudah. Tentu bukan jaminan bahwa pemilu langsung yang demokratis akan otomatis melahirkan pemimpin transformasional.
“Hanya, pemilu demokratis yang berjalan secara reguler dan langsung akan memperbesar kemungkinan lahirnya para pemimpin transformasional tersebut,” ungkapnya.
Kemudian secara khusus Wali Kota Bogor Bima Arya menekankan akan pentingnya sosok seorang pemimpin yang kredibel dan berintegritas. Sebab, seorang pemimpin mengemban amanat banyak orang.
“Memimpin adalah seni dalam mengelola harapan. Siapa pun yang menjadi pemimpin, ketua senat, ketua badan eksekutif mahasiswa (BEM), pemimpin redaksi, itu tahu kalau orang banyak berharap kepada kita,” jelasnya.
Sementara Nurdin Abdullah menggarisbawahi soal pentingnya menjunjung integritas. Menurutnya, tidak hanya pemimpin yang harus memilikinya, tetapi setiap orang.
“Integritas bangsa kita bergantung pada diri kita semua,” tutur Nurdin.
Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh mahasiswa prodi ilmu komunikasi yang mengambil mata kuliah komunikasi politik sebanyak 380 orang, dosen dan civitas akademika UMN sebanyak 50 orang, dan Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Komunikasi (ASPIKOM) 25 orang. (fsl)
(Rani Hardjanti)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik