Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ketika Guru Sudah "Tidak Perawan"

Ketika Guru Sudah
Ilustrasi: kegiatan belajar mengajar di sekolah. (Foto: dok. Okezone)
A
A
A

 

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Barangkali demikian perumpamaan yang sejak dulu diberikan tentang pentingnya menjaga perilaku atau moralitas guru. Guru yang mempunyai moralitas negatif akan berimbas pada moralitas siswanya pula. Sejatinya, guru harus menjadi panutan dan teladan bagi para anak didiknya sebagaimana asal kata guru itu sendiri: digugu dan ditiru. Sebagai guru, konsekuensinya adalah harus mampu berperilaku lebih dari yang bukan guru, khususnya dari sisi moralitas.

Guru adalah sumber ide; guru adalah sumber pengetahuan; dan guru adalah mesin pencetak manusia cerdas dan berakhlak mulia. Guru memegang peranan vital dalam menentukan nasib bangsa ini. Kelak, baik-buruknya nasib bangsa ini akan sangat bergantung pada kemampuan guru mencetak manusia-manusia yang cerdas dan berkarakter. Karena itu, seorang guru sudah sepantasnya sadar dan bangga atas tugas mulia yang diembannya.

Seyogianya, segala perilaku dan budi pekerti seorang guru memberi contoh teladan yang baik bagi anak didik. Oleh karena itu, pendidik harus terlebih dahulu memperbaiki dirinya sebelum melakukan transfer ilmu dan nilai kepada anak didiknya dalam proses pembelajaran. Guru yang sadar akan tugasnya sebagai pendidik tidak akan mudah terbawa ke dalam arus perubahan sosial kultur yang negatif. Sebab, dia menyadari bahwa semuanya itu hanya akan merusak kewibawaan dan citranya sebagai pendidik. Kepribadian adalah cermin dari citra guru dan akan memengaruhi interaksi antara guru dan anak didik. Karena itu, kepribadian merupakan faktor yang menentukan tinggi rendahnya martabat seorang guru.

Lebih dari itu semua, guru merupakan mikrokosmos manusia dan secara umum dapat dijadikan sebagai tipologi dan parameter makhluk terbaik. Perlu kita sadari, nilai-nilai moral yang dimiliki anak didik sebagian besar berasal dari luar yaitu lingkungan. Adapun salah satu lingkungan tersebut adalah lingkungan sekolah di mana guru atau pendidik merupakan sentralnya. Di era multi milenium seperti sekarang ini, diperlukan seorang pendidik yang memiliki karakter, pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan yang mumpuni sehingga mampu memotivasi dan menanamkan nilai-nilai kehidupan pada anak didik. Tugas seorang guru tidak hanya mengajar (transfer of knowledge), tetapi juga harus mampu menanamkan nilai-nilai dasar guna membangun karakter atau akhlak murid.

Memang, perubahan kondisi di semua lini kehidupan yang dipicu oleh perkembangan ilmu dan teknologi yang pesat, membawa serta perubahan-perubahan dalam cara berpikir, cara menilai, serta cara menghargai hidup dan kenyataan. Ini semua berimplikasi pada kekaburan nilai yang ada dan kekaburan dimensi nilai yang sebenarnya selalu ada dalam proses perkembangan dan perubahan masyarakat, tanpa terkecuali dalam pribadi seseorang. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab pendidik untuk melihat implikasi nilai etik dalam proses perubahan yang terjadi. Melalui tanggung jawabnya itu, guru diharapkan agar dapat membantu peserta didik untuk mengambil sikap dan keputusan dalam merencanakan kehidupan secara berarti. Proses ini disebut value clarification, alias pendidikan nilai.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement