Ketika Kepercayaan Diuji Pelajaran Komunikasi Krisis dari Kasus Peretasan Data 

Opini, Jurnalis
Minggu 22 Februari 2026 10:43 WIB
Ketika Kepercayaan Diuji Pelajaran Komunikasi Krisis dari Kasus Peretasan Data. (Ilustrasi: Freepik)
Share :


Sehingga hadir realitas yang mengkaburkan mana infomasi yang harus dipercaya dan informasi yang mengandung fitnah atau kebohongan. Sebagai sebuah efek demokrasi virtual dalam masyarakat, kekaburan realitas dan semu inilah yang disebut sebagai hiperrealitas oleh Jean Baudrillard (1987). Dalam masyarakat hiperrealitas, sesuatu yang semu atau palsu bisa dianggap lebih nyata dari hal yang sebenarnya. Padahal realitas yang dianggap nyata tersebut adalah realitas buatan. Informasi hoaks, misalnya, mampu membuat orang terperangkap dan menganggap pernyataan yang diinformasikan benar adanya, padahal bisa jadi ini adalah informasi buatan yang dibuat seolah-olah seperti benar adanya (Khairiyah, dkk, 2018). 

Refleksi Akhir: Krisis sebagai Ujian, Bukan Ahir

Kasus peretasan data mengingatkan kita bahwa setiap langkah menuju transformasi digital selalu menghadirkan dua wajah: kemudahan yang mempermudah hidup kita, dan kerentanan yang menuntut kewaspadaan. Namun, di balik setiap sebuah krisis, selalu ada ruang untuk tumbuh dan berkembang. Seperti kata Albert Einstein, “In the middle of every difficulty lies opportunity.” Krisis, dengan segala kekacauan dan tekanannya, sebenarnya adalah cermin yang memperlihatkan siapa kita dan bagaimana kita merespons keadaan. Dalam konteks itu, komunikasi krisis bukan sekadar upaya meredam isu. Ia adalah proses membangun dialog yang jujur, menjaga kepercayaan yang mungkin mulai retak, dan menunjukkan tanggung jawab yang nyata kepada publik. Ketika dunia semakin cepat, terhubung, dan transparan, fondasi yang paling menentukan bukanlah teknologi tercanggih, melainkan kejelasan informasi, ketenangan pesan, dan konsistensi komitmen yang dapat memberikan rasa aman. 

Justru di saat krisislah kualitas komunikasi sebuah institusi benar-benar tampak. Transparansi diuji, empati dipertanyakan, dan integritas dipantau publik dari detik ke detik. Kita mungkin tidak bisa selalu mencegah krisis-karena ancaman digital terus berkembang. Tetapi cara kita berkomunikasi saat krisis terjadi adalah faktor penentu apakah dampaknya memburuk atau mereda. Pada akhirnya, publik tidak selalu mengingat detail teknis dari krisis yang terjadi. Yang mereka ingat adalah bagaimana dapat menenangkan, menjelaskan, dan bertindak. Mereka mengingat sikap, bukan sekadar kronologi. Inilah mengapa setiap krisis bukanlah akhir, tetapi ujian-ujian tentang tanggung jawab, kepemimpinan, dan keberanian sebuah institusi untuk tetap hadir bagi publik di saat yang paling sulit. 

Penulis : 

Fitria Ayuningtyas 
Peneliti - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya