JAKARTA - Dalam beberapa waktu terakhir, Indonesia diguncang oleh gangguan layanan publik akibat peretasan terhadap Pusat Data Nasional Sementara (PDNS).
Serangan siber yang terjadi sejak Kamis (20/06/2024) itu disebut sebagai yang “paling parah” dalam deretan kasus peretasan data pemerintah, sebagaimana dilaporkan media internasional. Dampaknya meluas: layanan administrasi tersendat, sistem keimigrasian terganggu, dan berbagai urusan publik ikut terdampak. Dalam hitungan jam, ruang-ruang percakapan dipenuhi pertanyaan yang sama: Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah data masyarakat tetap aman? Kapan layanan akan pulih sepenuhnya?
Namun krisis ini bukan semata persoalan teknis tentang server, sistem, atau keamanan jaringan. Di balik gangguan digital tersebut, ada dimensi lain yang tak kalah krusial yaitu komunikasi. Di tengah situasi yang serba tidak pasti, cara informasi disampaikan dapat menentukan apakah publik larut dalam kepanikan atau tetap tenang dan percaya. Dari sudut pandang komunikasi krisis, peristiwa ini menjadi ujian penting tentang bagaimana transparansi, kecepatan respons, dan kejelasan pesan berperan dalam menjaga kepercayaan masyarakat. Artikel ini tidak bermaksud mengkritisi siapa pun, melainkan mengajak kita berpikir: apa yang bisa dipelajari dari cara kita berkomunikasi ketika krisis digital terjadi, pelajaran apa yang bisa kita petik tentang pentingnya komunikasi yang tepat, terbuka, dan menenangkan?
Krisis di Era Digital: Bukan Lagi Soal “Jika”, tetapi “Kapan”
Di dunia yang semakin terhubung, serangan siber bukan lagi kejutan, melainkan keniscayaan yang hanya menunggu waktu. Sifatnya yang senyap membuat publik tidak memiliki gambaran visual tentang krisis, namun dampaknya terasa seketika ketika layanan terganggu atau data dicuri. Dalam situasi seperti ini, kekosongan informasi menjadi ruang subur bagi spekulasi dan disinformasi. Karena itu, komunikasi memegang peran penting sebagai benteng kedua setelah teknologi-bukan hanya untuk menjelaskan apa yang terjadi, tetapi juga meredakan kecemasan melalui informasi yang jujur, jelas, dan manusiawi. Publik ingin mengetahui dampak yang mereka hadapi dan langkah konkret yang diambil organisasi; ketidakjelasan hanya mendorong mereka mencari jawaban sendiri di ruang digital yang penuh opini bercampur rumor.