Studi baru ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas oleh para peneliti untuk mengidentifikasi dengan tepat di mana kelelawar vampir hidup saat ini, dan untuk melacak pergerakan mereka dalam rentang tersebut dan seterusnya. Dengan menggunakan catatan wilayah jelajah kelelawar dari tahun 1901 hingga 2019, studi baru ini berupaya mengklarifikasi bagaimana berbagai faktor geografis dan lingkungan memengaruhi perubahan wilayah jelajah kelelawar vampir dan penyebaran rabies.
BACA JUGA:
Penelitian yang sedang berjalan bertujuan untuk lebih fokus pada keanekaragaman kelelawar di Kolombia, yang merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman kelelawar tertinggi di dunia, dan dilaporkan berada di urutan kedua setelah Indonesia. “Kolombia adalah negara yang sangat beragam, menjadikannya laboratorium alami yang sempurna,” kata ahli ekologi penyakit Luis Escobar, asisten profesor di Departemen Konservasi Ikan dan Satwa Liar di Sekolah Tinggi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Virginia Tech.
(Marieska Harya Virdhani)