JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) kini tidak lagi mewajibkan skripsi sebagai syarat kelulusan. Dalam jenjang diploma fashion design, mahasiswa diminta membuat karya busana sebagai salah satu syarat kelulusan.
Ada dua mahasiswi LaSalle College yang jadi sosok di balik suksesnya LaSalle College, khususnya tim Sanctuary di pagelaran Spotlight 2023 di Pos Bloc Jakarta, Minggu (19/11/2023). Perpaduan kain tenun Dayak Iban yang salah satunya memadukan kecantikan tersembunyi dan Borneo, monyet Bekantan, dan Anggrek Ekor Tikus.
Dua mahasiswa tersebut adalah Gabriella, mahasiswi Diploma 3 dari program Fashion Design dan Charvini, mahasiswi S1 yang juga dari program yang sama. Keduanya merupakan mahasiswi tingkat akhir di jenjangnya.
BACA JUGA:
Meski keduanya berbeda jenjang, ternyata keduanya memiliki program kuliah yang tidak jauh beda, baik dalam praktek dan materi. Perbedaan paling spesifiknya adalah dari materi kurikulum nasional seperti kewarganegaraan, bahasa Indonesia dan lain-lain yang ada di jenjang S1.
Keduanya mengawali mimpi mereka berdasarkan minat dan kesempatan yang ada di depan mata. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, mereka juga melihaat peluang fashion design di Indonesia masih sangat terbuka lebar. Hingga akhirnya fokus memilih bidang tata busana.
“Dulu itu bener-bener belum ada basic sama sekali di dunia fashion. Setelah dicari tahu kayaknya industri fashion itu masih sangat jarang ya di Indonesia,” kata Charvini, mahasiswi sekaligus desainer dari LaSalle College kepada Okezone, Sabtu (17/11/2023).
BACA JUGA:
Vokasi Fashion Design
Dari penuturan Gabriella, dirinya bahkan tidak melanjutkan sekolah SMAnya sampai selesai. Ia langsung masuk ke program Diploma di perguruan tinggi tersebut dan fokus untuk mendalami pendidikan vokasional di bidang desain dan tata busana.
Diketahui LaSalle College ternyata tidak mewajibkan mahasiswa barunya memiliki ijazah SMA jika sudah masuk ke sekolah program level internasional atau yang setara, kecuali bagi yang ingin masuk ke jenjang Sarjana.
“Dulu aku engak tahu kalau fashion design itu salah satu jurusan (studi), setelah dicari tahu ternyata menarik banget. Aku udah mulai dari kelas 7 atau 8 ada niatan buat masuk fashion design,” tambah Gabriella, mahasiswi diploma sekaligus desainer sekuens Sanctuary.
Mereka juga menempuh pendidikan lebih cepat. Gabriella di program D3 hanya ditempuh dalam waktu fultime 2 tahun dan 3 tahun jika kuliah dengan waktu part time. Untuk sarjana, masa studinya hanya 3 tahun dan 4 tahun untuk studi part time.
Jadi mahasiswa tingkat akhir, keduanya mempersiapkan tugas akhir dan skripsi mereka dengan matang. Vini yang merupakan mahasiswa sarjana mengangkat skripsinya dengan tema keberlanjutan.
“Aku mengangkat tema Fenomenologi Fashion Rental dan Sharing pada Generasi Milenial. Aku melihat fenomena generasi milenial sekarang lebih fokus ke keberlanjutan. Jadi mereka.lebih suka rent daripada beli, sekarang juga banyak desainer yang akhirnya sewa baju dengan harga yang lumayan tinggi,” jelas Charvini.
Sedangkan Gabriella yang jadi mahasiswa Diploma, dirinya fokus membuat koleksi baju yang jadi syarat akhir kelulusan. Ia membuat koleksi yang terinspirasi dari karya pelukis Vincent Van Gogh ‘Starry Night’ yang dipadu kain lurik dari Yogyakarta.
(Marieska Harya Virdhani)