Kegemarannya menanam beragam tanaman, terutama rempah-rempah ditambah lagi dengan kemampuannya dalam meramu tanaman sangat bermanfaat. Diyang sering dimintai pertolongan apabila ada orang di sekitar tempat tinggalnya
yang sedang sakit. Dia juga menolong ibu-ibu yang ingin melahirkan karena mempelajari ilmu persalinan.
Adapun, perjalanan Diyang dalam mengemban tugas sebagai orang yang menolong persalinan bukanlah tanpa kendala. Pernah suatu ketika ia dimusuhi oleh seorang
dukun beranak yang ada di desa tetangga. Menurut dukun beranak itu, Diyang telah merebut wewenangnya. Namun, dia tidak pernah memepermasalahkan persaingan dengan dukun beranak dan tetap membantu orang banyak.
Pekerjaan Diyang sebagai dukun beranak tidak menjadikannya lalai dalam tugas rumah tangganya. Bagi Diyang ia harus dapat membagi waktu antara tugasnya sebagai dukun beranak dan kewajibannya sebagai seorang istri.
Saat meranjak usia tua, ia tetap melakoni pekerjaannya sebagai dukun beranak. Usia tua tak menjadi penghalangnya menolong orang yang memerlukan. Di usia tuanya, sering kali yang datang meminta pertolongan untuk melahirkan merupakan bayi yang pernah disambutnya pertama kali menghirup udara segar setelah di dalam rahim selama sembilan bulan sembilan hari. Oleh karena itu, ia pun terkenal dengan sebutan Datu Diyang.
(RIN)
(Rani Hardjanti)