JAKARTA - Bahasa Indonesia merupakan jati diri dan simbol kedaulatan bangsa.
Kedudukannya sebagai bahasa resmi diatur dalam UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.
Dalam pasal 1 disebutkan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional yang digunakan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Indonesia sendiri terdiri atas keanekaragaman ras, suku, dan budaya. Setiap wilayah di Indonesia mempunyai bahasa daerahnya masing-masing.
Maka dari itu, bahasa Indonesia hadir sebagai bahasa pemersatu yang dapat digunakan di antara beragam suku bangsa.
Dengan begitu, masyarakat Indonesia dapat membangun komunikasi tanpa terhalang bahasa daerah masing-masing.
Bahasa dan Sastra di Indonesia
Bahasa Indonesia berakar dari bahasa Melayu yang digunakan sejak abad ke-7. Pada masa Kerajaan Sriwijaya, bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa kebudayaan yang tertulis pada buku pelajaran agama Buddha.
Beberapa peninggalan yang membuktikan penggunaan bahasa Melayu di antaranya prasasti di Kedukan Bukit berangka tahun 683 M, prasasti Talang Tuwo berangka tahun 684 M, dan prasasti Kota Kapur berangka tahun 686 M.
Peninggalan sejarah berbahasa Melayu semakin jelas pada masa Kerajaan Islam.
Terlebih lagi dengan lahirnya karya-karya sastra berbahasa Melayu yang banyak berkembang, seperti Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, dan
Sejarah Melayu
Bahasa Melayu semakin berkembang seiring berjalannya waktu. Bahasa ini kemudian digunakan sebagai bahasa penghubung antarkerajaan di Nusantara.
Penggunaan bahasa Melayu di Nusantara mendorong rasa persatuan dan persaudaraan. Rasa tersebut melahirkan Sumpah Pemuda yang merupakan momen resminya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Bukan hanya untuk berkomunikasi, bahasa Indonesia juga mampu melahirkan sastra yang luar biasa.
Hasil karya tersebut tentunya juga tidak lepas dari tangan dingin para sastrawan yang berhasil merangkai sebuah kalimat hingga menciptakan tulisan yang indah dan enak dibaca.
A.A. Navis adalah salah satu sastrawan Indonesia dengan karya legendarisnya, Robohnya Surau Kami. Lalu, ada Marah Rusli yang merupakan sastrawan terbaik di era Balai Pustaka.
Dia terkenal dengan karyanya, Siti Nurbaya, yang hingga saat ini masih dikenal.
Sejarah di balik Bulan Bahasa dan Sastra
Setiap bulan Oktober, Indonesia memperingati Bulan Bahasa dan Sastra.
Bulan Oktober dipilih karena merujuk pada Sumpah Pemuda yang terjadi pada 28 Oktober 1928.
Pada bulan ini, sejumlah penggiat sastra, sastrawan, hingga pemerhati bahasa memperingatinya dengan menggelar perhelatan yang berkaitan dengan bahasa dan sastra.
Adapun kegiatan itu dapat berupa seminar, lomba pidato, parade puisi, kegiatan literasi, dan masih banyak lagi.
Kongres Pemuda II menjadi cikal bakal terjadinya Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928.
Kongres yang dihadiri oleh berbagai organisasi pemuda seluruh Indonesia ini dipimpin oleh Sugondo Joyopuspito dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI).
Dari kongres pemuda inilah lahir tiga poin penting yang menjadi tonggak perjuangan bangsa Indonesia yang berbunyi:
Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedua: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia
Sejak saat itulah, bahasa Melayu dikukuhkan sebagai bahasa Indonesia dan resmi digunakan sebagai bahasa nasional.
Sesuai dengan poin ketiga, bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan yang digunakan seluruh rakyat Indonesia.
Merujuk pada pengukuhan itulah, Bulan Bahasa dan Sastra pun lahir untuk mengingat bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
(Natalia Bulan)