Peninggalan sejarah berbahasa Melayu semakin jelas pada masa Kerajaan Islam.
Terlebih lagi dengan lahirnya karya-karya sastra berbahasa Melayu yang banyak berkembang, seperti Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, dan
Sejarah Melayu
Bahasa Melayu semakin berkembang seiring berjalannya waktu. Bahasa ini kemudian digunakan sebagai bahasa penghubung antarkerajaan di Nusantara.
Penggunaan bahasa Melayu di Nusantara mendorong rasa persatuan dan persaudaraan. Rasa tersebut melahirkan Sumpah Pemuda yang merupakan momen resminya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Bukan hanya untuk berkomunikasi, bahasa Indonesia juga mampu melahirkan sastra yang luar biasa.
Hasil karya tersebut tentunya juga tidak lepas dari tangan dingin para sastrawan yang berhasil merangkai sebuah kalimat hingga menciptakan tulisan yang indah dan enak dibaca.
A.A. Navis adalah salah satu sastrawan Indonesia dengan karya legendarisnya, Robohnya Surau Kami. Lalu, ada Marah Rusli yang merupakan sastrawan terbaik di era Balai Pustaka.
Dia terkenal dengan karyanya, Siti Nurbaya, yang hingga saat ini masih dikenal.
Sejarah di balik Bulan Bahasa dan Sastra
Setiap bulan Oktober, Indonesia memperingati Bulan Bahasa dan Sastra.
Bulan Oktober dipilih karena merujuk pada Sumpah Pemuda yang terjadi pada 28 Oktober 1928.
Pada bulan ini, sejumlah penggiat sastra, sastrawan, hingga pemerhati bahasa memperingatinya dengan menggelar perhelatan yang berkaitan dengan bahasa dan sastra.
Adapun kegiatan itu dapat berupa seminar, lomba pidato, parade puisi, kegiatan literasi, dan masih banyak lagi.