Makan Semangka pada 6.000 Tahun yang Lalu Ternyata Mematikan, Bagaimana Penjelasannya?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Sabtu 08 Oktober 2022 08:10 WIB
Ilustrasi/Unsplash
Share :

“Dari semua sisa tanaman sangat tua yang telah digolongkan secara genetika, ini adalah tanaman tertua yang diurutkan sejauh ini.”

Para ilmuwan membandingkan DNA biji semangka tua tersebut dengan biji lainnya dari Sudan yang sebagian berumur 3.000 tahun serta dengan biji dari herbarium di Kew Garden yang dikoleksi selama 150 tahun terakhir.

“Dan kami menyadari biji-biji dari Libia ini, meski secara genetika berkorelasi dengan semangka yang kita makan sekarang, sangatlah berbeda.”

Putih, pahit, dan berpotensi mematikan

Dengan mengkaji gen-gen mana yang ada pada biji-biji dari Libya dan mengetahui sifat yang dikendalikan setiap gen, para ilmuwan bisa menebak seperti apa semangka yang dikonsumsi 6.000 tahun lalu.

“Itulah cara kami memahami dengan tingkat kemungkinan yang tinggi bahwa semangka ini pahit, dan di dalamnya berwarna putih,“ kata Pérez Escobar.

Isi semangka tersebut juga punya ”senyawa bernama cucurbitacin dalam jumlah banyak“. Senyawa itu membuat semangka terasa pahit.

“Jika dikonsumsi dalam jumlah signifikan, senyawa tersebut bisa membuat mati.“

“Cucurbitacin utamanya ditemukan di kelompok tanaman Cucurbitaceae, yang mencakup labu, melon, dan semangka. Kadar racun pada senyawa ini muncul sebagai adaptasi untuk mencegah kerusakan akibat predator.“

Hingga saat ini beberapa spesies semangka liar bisa menyebabkan keracunan pada manusia akibat kandungan cucurbitacin yang tinggi, menurut Pérez Escobar.

“Kasus-kasus keracunan, atau bahkan kematian, dilaporkan di Eropa dan Asia pada orang-oerang yang mengira semangka liar dengan cucurbitacin yang tinggi bisa disantap seperti semangka biasa.“

Para ilmuwan meyakini dalam kasus semangka berumur 6.000 tahun di Libya, hanya biji yang dimakan.

“Tidak seperti buah semangka, bijinya tidak mengandung cucurbitacin, yang luar biasa pahit,“ kata Susanne Renner, peneliti dari Universitas Washington di AS yang merupakan sesama penulis kajian tersebut.

Penulis lainnya, Guillaume Chomicki dari Universitas Sheffield di Inggris, mengatakan semangka yang ditemukan timnya “tampak dikumpulkan atau awalnya dibudidayakan untuk diambil bijinya. Ini konsisten dengan tanda gigitan manusia pada biji-biji yang ditemukan di Libya“

Misteri domestikasi

Para ilmuwan meyakini semangka yang kita santap sekarang, memiliki nama ilmiah Citrullus lanatus subsp. Vulgaris, bukan merupakan keturunan langsung spesies dalam kajian melainkan dari populasi lain yang sempat bertukar gen dengan semangka Libya 6.000 tahun lalu.

Salah satu pertanyaan besar yang belum terjawab adalah kapan semangka yang kita konsumsi zaman sekarang didomestikasi? Dengan kata lain, pada tahun berapa seseorang mulai menyeleksi semangka-semangka ini untuk dicari sifat yang diinginkan lalu membudidayakanya?

“Satu hipotesis yang kami punya adalah sebelum semangka didomestikasi untuk tipe kegunaan apapun, apakah bijinya atau buahnya yang merah, nenek moyang spesies ini adalah semangka yang pahit, buahnya yang putih, dan berbiji kecil,” papar Perez-Escobar.

“Kemudian suatu hari seseorang secara kebetulan menemukan tanaman yang bermutasi sehingga dagingnya merah atau kuning manis.”

“Lantas orang itu mengambil bijinya dan mulai membudidayakannya.”

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya