Ayah Socrates, Sophroniscus adalah seorang pemahat dan sang ibu yang bernama Phaenarete berprofesi sebagai bidan.
Setelah ayahnya berpulang, Socrates menggantikan sang ayah sebagai pemahat.
Socrates hadir untuk mendobrak cara berpikir masyarakat Yunani yang ia nilai semakin terbelakang, terutama pada bidang ilmu pengetahuan.
Secara keseluruhan, Socrates digambarkan sebagai sosok cerdas, kritis, dan berintegritas tinggi, serta pandai berargumentasi.
Menurutnya, ada kebenaran yang bersifat objektif di dunia ini, ketika kebenaran itu bukanlah bergantung pada ‘saya’ atau 'kita'.
Untuk membuktikan kebenaran tersebut, Socrates membuktikannya dengan metode tertentu, yakni dialektika yang berisi dua penemuan, yakni induksi dan definisi.
Socrates wafat pada 15 Februari 399 SM usai menerima hukuman mati. Ia dianggap tidak bersedia mengakui dewa-dewa Yunani yang diakui oleh negara.
Socrates juga dipandang telah merusak moral pemuda melalui pemikiran-pemikirannya.
2. Plato
Seorang murid dan sahabat Socrates, Plato, juga merupakan filsuf Yunani kuno yang namanya terkenal hingga saat ini.
Plato lahir di Athena, Yunani, pada 428 SM atau 427 SM dan meninggal di tahun 348 SM.
Melansir Jurnal Cendikia berjudul ‘Mengenal Filsafat Antara Metode Praktik dan Pemikiran Socrates, Plato, dan Aristoteles’ (2019), pemikiran Plato yang sangat mendunia dan tidak bisa dikesampingkan dari perkembangan filsafat Barat adalah mengenai ide.
Plato apik membangun kerangka pemikiran dengan pengaruh luar biasa, dan bisa merangkum berbagai persoalan filosofis dari masa sebelumnya.
Berlandaskan pada pemikirannya tentang ide, Plato membagi dunia atas dua jenis, yakni ide rasional dan ide indrawi.
Dunia rasional adalah ketika ide-ide tersebut hanya terbuka bagi rasio kita sendiri.
Sementara, rasio indrawi terbuka bagi indra yang dimiliki manusia. Sama seperti Socrates, Plato juga menggunakan metode dialektika untuk menjawab berbagai pertanyaan.
Metode tersebut juga digunakan untuk menulis buku-buku karyanya.