JAKARTA - Tanggal 17 Agustus setiap tahunnya dirayakan sebagai hari ulang tahun kemerdekaan negara republik Indonesia. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) RSPAD Gatot Soebroto merayakan dengan berbagai lomba, yang puncaknya ditutup dengan refleksi kemerdekaan, Senin (16/8/2021).
Himpunan Mahasiswa D III Keperawatan STIKes RSPAD Gatot Soebroto selaku pelaksana menghadirkan Direktur Pusat Kajian Pancasila (Pusaka Pancasila) Universitas Jakarta, Fakhruddin Muchtar selaku narasumber. Ia menyorot bahwa di setiap momen kemerdekaan seringkali diwarnai dengan ketidakpuasan beberapa orang, khususnya terkait dengan kesejahteraan.
“Mereka terkesan mengecilkan makna kemerdekaan dengan mempertanyakan betulkah Indonesia sudah merdeka? Kita sering melihat itu di media sosial, dan kemungkinan tahun ini pasti ada saja pernyataan serupa yang akan kita temukan,” ungkapnya.
Menurut Fakhruddin, fenomena ini sesungguhnya bukan hal yang benar-benar baru. Sejak di sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang juga menjadi tempat Soekarno memperkenalkan Pancasila, terdapat anggapan serupa.
“Soekarno mengkritik beberapa pendapat yang menginginkan pengumuman kemerdekaan menunggu kesejahteraan semua rakyat terlebih dahulu. Kata dia, ‘Kalau semuanya harus diselesaikan lebih dulu sampai njlimet, saya tidak akan pernah mengalami Indonesia merdeka. Tuan tuan tidak akan mengalami Indonesia merdeka. Kita semua tidak akan mengalami Indonesia merdeka. Sampai ke liang kubur!” tiru Fakhruddin.
Kemerdekaan bagi Soekarno adalah sebentuk politiek onafhankelijkheid atau kebebasan berpolitik. Merdeka baginya adalah ketika sebuah negara sudah mampu melindungi diri sendiri dengan darahnya sendiri. Setelah kemerdekaan bangsa tercapai, ia kemudian menjadi semacam jembatan emas bagi rakyatnya. Di ujung jembatan inilah semuanya akan dibenahi.
“Sebagian rakyat Indonesia merasa belum sejahtera, boleh saja. Mereka menuntut kesejahteraan yang lebih baik, sah-sah saja. Tapi jangan jadikan itu alasan untuk mempertanyakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Jangan kecilkan arti kemerdekaan!” tegas Fakhruddin.
(Widi Agustian)