Namun tekadnya tak goyah, ia mencoba beberapa kali melakukan eksperimen membuat olahan keripik dari olahan batang pisang atau yang dikenal debog ini. Setelah hampir seminggu melalui masa trial and error dan promosi melalui WhatsApp, Instagram, TikTok (@iq.balmaulana), dan gethok tular, Iqbal telah mengirimkan produknya hingga ke Surabaya, Sidoarjo, Bogor, Lamongan, dan Jakarta.
Meski sempat mengalami kerugian di awal penjualannya, kini produk keripik debog miliknya bisa menghasilkan omzet kisaran satu hingga dua juta per bulan dengan rata-rata penjualan 100 produk setiap minggunya.
“Dalam waktu dekat ini, ingin memiliki dapur produksi sendiri dengan menyewa tempat, mendirikan outlet, dan memiliki banyak reseller,” tuturnya.
Bahkan penjualannya masih juga lancar saat penerapan PPKM darurat diberlakukan di Pulau Jawa dan Bali. "Tidak ada penurunan signifikan, karena kami fokus penjualan melalui online. Untuk wilayah Bojonegoro dan Ngasem kami bebaskan biaya pengantaran," pungkasnya. (din)
(Rani Hardjanti)