ITS Kembangkan Beton Apung Pertama di Indonesia

Koran SINDO, Jurnalis
Minggu 14 Juli 2019 17:25 WIB
Beton (Reuters)
Share :

SF Marina memiliki konstruksi dermaga beton apung yang sudah dibuat per modul, dengan disesuaikan berdasarkan kebutuhan. “Buatnya tidak lama karena bentuknya kan modulmodul, satu modul itu tergantung lebar dan panjangnya, termasuk kebutuhannya.

Pekerjaannya sekitar 2 bulan permodul, paling lama 4 bulan, tergantung modulnya juga,” ungkap Budi. Untuk membuat beton apung di suatu wilayah, dibutuhkan adanya batching plant. Batching plant adalah lokasi khusus untuk pembuatan beton readymix, yang memiliki beberapa komponen untuk mencampur materialmaterial beton.

Dengan kata lain, itu adalah pabrik beton dimana terjadi pencampuran dan pengadukan beton yang akan digunakan untuk kepentingan konstruksi berbagai proyek, baik itu landasan bandara, jalan raya, maupun perumahan.

“Seperti contoh, kita mau bikin dipelabuhan atau marina di pulau rote. Kalau di pulau rote belum ada batching plant beton, maka tidak bisa dibuat. Makanya kita harus bikin di tempat terdekat dengan batching plant, yaitu di kupang.

Kita bikin di kupang dan dikirim ke pulau rote, bisa ditarik oleh kapal atau dinaikkan ke bar,” tambahnya. Kemudian, perbandingan harga antara beton apung dan beton dengan tiang pancang sangat signifikan.

Harga beton apung sendiri sekitar 10-12 juta per meter, sedangkan beton dengan tiang pancang mencapai 20-30 juta, tergantung dari kedalaman laut. Menurut Budi, beton apung juga memiliki tingkat stabilitas lebih baik dibandingkan Baja. Hal ini dikarena sifat beton yang lebih berat, sehingga goncangan air laut dapat direduksi.

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya