Ridwan mengungkapkan dengan hadirnya radar tersebut semakin memperkuat sistem radar cuaca nasional. Kemudian radar kedua ini menurutnya mempunyai model yang baru dari radar yang dikembangkan sebelumnya yang bervarian Frequency Modulated Continuous Wave (FMCW).
Radar kedua ini bersifat Pulse Polarimetric Doppler Radar dengan keunggulan bentuknya lebih ringkas, semua menggunakan solid state, tidak ada komponen tabung dan full elektronik. Selain itu pengembangan radar cuaca kedua ini juga melibatkan PT. Inti, PT. CMI Teknologi dan BMKG.
"Model pertama analog, sekarang model pulse jadi lebih ringkas. Tetapi jangkauan sama. Ini mau kita ujicoba, dan mudah-mudahan hasilnya sama bagusnya dengan radar yang sudah dikembangkan sebelumnya," kata Ridwan.
Ridwan menambahkan sistem kerja dari radar cuaca ini nantinya akan memancarkan gelombang elektromagnetik kepada benda-benda di angkasa seperti partikel hujan, angin, dan udara.
“Benda-benda yang ada di angkasa nantinya akan memantulkan kembali dan pantulannya itu yang akan dianalisis,” ujarnya
Kendati demikian, radar cuaca ini dapat diaplikasikan untuk pengamatan cuaca, monitoring cuaca buruk, penelusuran badai, topan, dan siklon, deteksi hujan es, aplikasi hidrometeorologis, seperti peramalan banjir, penelitian meteorologis, kebutuhan pertanian, dan deteksi wind shear di bandara.
"Manfaatnya sangat baik sekali, untuk melihat cuaca yang sedang berlangsung atau prediksi cuaca. Harapan ke depan, di samping bisa mengembangkan keilmuan kita juga berkontribusi pada negara," ujarnya.
Radar kedua ini dipasang di atap Gedung SBM-ITB, karena gedung tersebut paling tinggi dan mempunyai kontruksi yang kokoh. Di Indonesia radar cuaca semacam ini baru dibuat pertama kali oleh ITB.
(Feb)
(Rani Hardjanti)