Siswa di NTT Belajar Matematika Pakai Kue Bolo Pagar

Iradhatie Wurinanda, Jurnalis
Jum'at 20 Januari 2017 18:05 WIB
Foto: Istimewa
Share :

JAKARTA - Bagi siswa SD, belajar matematika akan lebih menarik jika menggunakan alat bantu ajar, seperti sempoa atau tangram. Namun, cara berbeda dan unik diterapkan oleh anak-anak di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sana, para guru justru menggunakan kue bolo pagar dalam proses belajar matematika.

Kue bolo pagar merupakan makanan tradisional khas masyarakat Sikka yang selalu menjadi suguhan di acara-acara khusus, seperti peminangan, hantar belis, komuni pertama, dan lain sebagainya. Guru di SDK 067 Du, Maria Sea mengungkapkan, kue berbahan dasar tepung beras dan tepung tapioka itu bisa melatih siswa untuk mengenal bangun datar.

"Kami menciptakan suatu metode pembelajaran matematika melalui pembuatan kue bolo pagar. Kue ini membantu anak-anak untuk memahami bentuk-bentuk bangun datar," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (20/1/2017).

Maria menjelaskan, pembuatan kue bolo pagar juga mengajarkan banyak nilai karakter kepada anak-anak, seperti kerjasama, kesabaran, dan ketelitian. Pasalnya, kue yang terdiri atas tiga warna ini memiliki bentuk yang rumit, dan banyak ornamennya.

"Metode ini merupakan bagian dari kurikulum pendidikan kontekstual kulababong. Istilah kulababong sendiri berasal dari bahasa asli masyarakat Sikka yang artinya musyawarah," terangnya.

Dia mengatakan, seorang guru tidak bisa menerapkan cara belajar yang sama kepada seluruh anak di Indonesia. Menurut dia, lain kota, lain budaya, lain pula cara belajarnya.

Sedangkan Ketua Yayasan Wahana Visi Indonesia, Agnes Wulandari menambahkan, metode pendidikan kontekstual dapat merekatkan anak-anak untuk kembali kepada nilai-nilai budayanya. Budaya akan membantu pendidikan formal, sedangkan pendidikan formal membantu mendorong kelestarian budaya dan nilai-nilai karakter.

"Misalnya ketika anak-anak di Indonesia bagian barat diajarkan mengenai kereta api, maka anak-anak di Indonesia bagian timur, seperti NTT tidak bisa mengerti karena tidak ada kereta api di sekitar mereka," simpulnya.

(Susi Fatimah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya