"Bisa juga dijelaskan tentang kurikulum dan gaya belajar. Karena gaya belajar peserta didik berbeda di setiap jenjang. Misalnya, saat SD mungkin masih model klasikal, tetapi SMP mereka sudah ada spesialisasi per mata pelajaran. Nanti SMA berbeda lagi," ucapnya.
Salah satu anggota Dewan Pembina Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) itu menambahkan, MOS juga dapat menjadi ajang para siswa untuk mendapat edukasi mengenai pemahaman kekerasan dalam pendidikan. Bully, kata Abduhzen, menjadi penting untuk disampaikan beserta bentuk, penyebab, dan cara menghadapi bully.
"MOS ini harus dijadikan bagian dari proses awal pembelajaran. Banyak yang bisa diberikan selama tiga hari itu. Motivasi atau hal-hal praktis juga bisa ditambahkan dalam materi MOS. Tak perlu ada tindak kekerasan," pungkasnya. (ira)
(Rifa Nadia Nurfuadah)