Indonesia, lanjut Harjanto, masih membutuhkan sitem kuliah online lebih banyak lagi. Dengan angka partisipasi kasar (APK) sekira 30 persen, tentu sistem kuliah online akan sangat membantu.
"Kalau tidak ada terobosan kuliah online, harus berapa lagi perguruan tinggi yang harus dibangun. Begitu juga bagimana cara mencari tenaga dosennya, sedangkan APK masih harus ditingkatkan" sebutnya.
Saat ini, pihaknya masih terus mengevaluasi kuliah online di Binus. Mantan mahasiswa teladan Undip 1987 tersebut menilai, dalam kuliah online yang terpenting yakni cara belajar setiap individu, sedangkan alat dan teknologi hanya membantu proses pembelajaran.
"Jangan sampai kuliah online malah disalahgunakan. Seperti beberapa waktu lalu sempat ada oknum kampus yang memberikan ijazah tanpa proses yang jelas, hanya datang seminggu sekali. Sampai berujung pemerintah menutup kampus itu. Hal ini akan menimbulkan anggapan kalau PTS itu gampangan. Padahal kami di sini kerja setengah mati," tandasnya. (afr)
(Rifa Nadia Nurfuadah)