JAKARTA - Perkembangan teknologi yang semakin canggih membuat manusia hidup serba digital. Jarak kini sudah bukan menjadi hambatan. Setiap orang bisa dengan mudah berkomunikasi satu sama lain dengan waktu yang bersamaan, bahkan secara tatap muka.
Era digital tersebut turut mempengaruhi dunia pendidikan. Saat ini bukan hal yang mustahil jika perkuliahan dilakukan secara online. Hal tersebut membuat dosen dan mahasiswa tak perlu bertemu langsung di kelas, melainkan bisa berinteraksi melalui video call.
"Karena basis kami sekolah komputer, maka sejak 2002 merintis bahwa pembelajaran tidak harus di kelas, tetapi bisa dilakukan secara online. Tetapi dalam perjalanan akhirnya kami punya kuliah online full, tentunya berdasarkan izin dari pemerintah," ujar Rektor Bina Nusantara (Binus) University, Profesor Dr Ir Harjanto Prabowo, MM, ditemui Okezone di Kampus Binus Syahdan, Jakarta, baru-baru ini.
Kuliah online, tutur dia, ditujukan bagi mereka yang kesulitan untuk pergi langsung ke kampus. Kendati demikian, Mantan Dekan Fakultas Ilmu Komputer Binus itu sama sekali tidak menurunkan standar kompetensi yang harus dicapai mahasiswa.
"Misalnya para pegawai yang kuliah lagi, kan kasihan jika malam-malam harus ke kampus, begitu juga dosennya. Tetapi walaupun jadwal lebih fleksibel, standar tetap wajib dipenuhi. Ujian tetap harus dijalani, begitu juga tugas tetap dikerjakan tepat waktu," terangnya.
Harjanto menegaskan, konsep kuliah online Binus berbeda dengan Universitas Terbuka (UT). Pasalnya, yang online hanya sistem, sementara terkait ujian masih secara manual. Anak ketujuh dari 10 bersaudara itu mengungkapkan, mahasiswa yang mengambil kuliah online sebenarnya memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada kelas reguler.
"Orang yang berani mengambil kuliah online berarti dia sadar bahwa harus belajar mandiri lebih banyak. Saya menyayangkan, karyawan yang lanjut kuliah tetapi punya niatan ingin cepat lulus sampai melakukan ketidakjujuran," ucapnya.
Indonesia, lanjut Harjanto, masih membutuhkan sitem kuliah online lebih banyak lagi. Dengan angka partisipasi kasar (APK) sekira 30 persen, tentu sistem kuliah online akan sangat membantu.
"Kalau tidak ada terobosan kuliah online, harus berapa lagi perguruan tinggi yang harus dibangun. Begitu juga bagimana cara mencari tenaga dosennya, sedangkan APK masih harus ditingkatkan" sebutnya.
Saat ini, pihaknya masih terus mengevaluasi kuliah online di Binus. Mantan mahasiswa teladan Undip 1987 tersebut menilai, dalam kuliah online yang terpenting yakni cara belajar setiap individu, sedangkan alat dan teknologi hanya membantu proses pembelajaran.
"Jangan sampai kuliah online malah disalahgunakan. Seperti beberapa waktu lalu sempat ada oknum kampus yang memberikan ijazah tanpa proses yang jelas, hanya datang seminggu sekali. Sampai berujung pemerintah menutup kampus itu. Hal ini akan menimbulkan anggapan kalau PTS itu gampangan. Padahal kami di sini kerja setengah mati," tandasnya. (afr)
(Rifa Nadia Nurfuadah)