Supaya lebih jelas, Ketua Panitia SNMPTN dan SBMPTN 2016, Rochmat Wahab kemudian memberikan contoh penggunaan indeks integritas sebagai variabel penilaian.
Si A nilai rapornya sembilan. Jika dia ada di sekolah dengan indeks integritas di bawah lima, maka nilainya tidak sembilan, bisa jadi malah 4,5. Tapi kalau si B nilainya sembilan dan indeks integritas sekolahnya di atas lima, misalnya sembilan juga, berarti nilai dia tetap sembilan. Indeks ini intinya memberi nilai yang sebenarnya.
"Hal ini bisa mendorong setiap sekolah berlomba-lomba menerapkan kejujuran karena masuk faktor penentu lolos SNMPTN," pungkasnya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)