JAKARTA - Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) atau yang dikenal dengan istilah jalur undangan bertujuan untuk menjemput bibit-bibit unggul yang kurang terlihat lantaran ada di daerah-daerah terpencil. Oleh karena itu, proses seleksi jalur ini menggunakan nilai rapor dan prestasi.
Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTN), Herry Suhardiyanto mengatakan, selama ini kelemahan jalur SNMPTN adalah sulit membandingkan nilai rapor antarsekolah. Di sisi lain, sistem undangan ini memberi kesempatan mutiara bangsa yang kurang punya akses karena sekolahnya kurang maju.
"Kalau membandingkan nilai siswa dalam satu sekolah mudah, tapi ini kan antarsekolah. Sedangkan tidak semua kampus punya daftar peringkat sekolah yang lengkap. Oleh karena itu, biasanya kampus akan membandingkan dengan capaian IPK kakak kelasnya sebagai pemandu," ujar Herry.
Indeks integritas sekolah yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), kata Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) itu, membantu kampus-kampus yang belum punya daftar peringkat sekolah.
"Kalau nilai rapor tinggi, tapi indeks integritas sekolahnya rendah tentu peluang anak itu jadi kecil. Tapi, ini semua karena baru diterapkan jadi masih penyesuaian. Untuk proporsi pertimbangannya sendiri diperhitungkan oleh masing-masing rektor," ucapnya.
Supaya lebih jelas, Ketua Panitia SNMPTN dan SBMPTN 2016, Rochmat Wahab kemudian memberikan contoh penggunaan indeks integritas sebagai variabel penilaian.
Si A nilai rapornya sembilan. Jika dia ada di sekolah dengan indeks integritas di bawah lima, maka nilainya tidak sembilan, bisa jadi malah 4,5. Tapi kalau si B nilainya sembilan dan indeks integritas sekolahnya di atas lima, misalnya sembilan juga, berarti nilai dia tetap sembilan. Indeks ini intinya memberi nilai yang sebenarnya.
"Hal ini bisa mendorong setiap sekolah berlomba-lomba menerapkan kejujuran karena masuk faktor penentu lolos SNMPTN," pungkasnya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)