Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain mengatakan, penelitian kelautan di wilayah barat Indonesia masih belum berkembang. Hal tersebut disebabkan tingginya biaya penelitian yang bersumber dari belum adanya stasiun penelitian kelautan untuk wilayah barat Indonesia. Selama ini, kata Iskandar, penelitian kelautan lebih banyak difokuskan di kawasan timur Indonesia. Sedangkan untuk wilayah barat, LIPI hanya memiliki stasiun penelitian di Pulau Pari.
"Ini yang membuat biaya penelitian di kelautan di barat Indonesia tinggi, akibatnya penelitiannya tidak berkembang," kata Iskandar usai workshop Pembangunan Stasiun Penelitian Lapangan LIPI di Kawasan Barat Indonesia di kantor LIPI, Senin (31/8/2015).
Iskandar menjelaskan, untuk itu LIPI memutuskan membangun stasiun penelitian kelautan di kawasan barat Indonesia, tepatnya di Sabang, Nangroe Aceh Darussalam sebagai prioritas utama. Pulau Sabang menjadi terpilih menjadi lokasi stasiun di antara lima kandidat lokasi lainnya, seperti Tapanuli Tengah (Sumatera Utara), Kabupaten Kaur (Bengkulu), Pesisir Cilacap (Jawa Tengah), dan Pacitan (Jawa Timur).
Stasiun penelitian di Sabang akan difokuskan untuk penelitian perairan Samudera Hindia. Penelitian di kawasan ini diyakini akan memberi dampak positif bagi perkembangan Iptek kelautan di Indonesia. Iskandar meyakini, Samudera Hindia tidak kalah pentingnya dengan lautan di timur Indonesia.
"Stasiun kelautan itu nantinya dapat meningkatkan kemampuan para peneliti Indonesia dalam mengungkapkan fenomena laut dan potensi sumber daya yang ada di barat Indonesia," imbuhnya.
Meski di satu sisi, Iskandar menyayangkan minimnya jumlah peneliti di Indonesia. Padahal di negara-negara maju peran peneliti sangat penting untuk melakukan riset yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa. Minimnya jumlah peneliti juga berdampak pada lambatnya perkembangan iptek di Indonesia.